PASUKAN PANJI HITAM THE BLACK BANNER

Saturday, April 30, 2011

GEMPA DAN TSUNAMI JEPANG, TEGURAN NYATA ALLAH SWT BAGI BANGSA MAJUSI JEPANG

Saya dikejar tsunami dari Aceh hingga Jepang”. Demikian kata salah seorang Mahasiswa Pascasarjana di Universitas Sendai yang berasal dari, Aceh yang selamat dari dua peristiwa tsunami.

Kita tahu, Jum’at siang tanggal 11 Maret 2011, sebuah gempa berkekuatan hampir 9 skala richter mengguncang Negeri Matahari terbit, gempa sangat terasa di Propinsi Miyagi yaitu di kota Sendai, Fukushima dan sekitarnya. Selang beberapa menit sirine peringatan dini Tsunami meraung-raung, penduduk yang masih panik karena gempa terjadi kini bertambah panik karena gelombang besar Tsunami hendak menerjang mereka, mereka berlarian mencari tempat tinggi, namun banyak dari mereka yang terlambat, Tsunami setinggi lebih dari 5 meter dan menerjang daratan sejauh hampir 10 Km, menghancurkan dan menghanyutkan apa saja yang ada, mobil, rumah, manusia, hewan dan tumbuhan hanyut.

Sampai tulisan ini dimuat, sudah lebih dari 10.000 korban yang tewas, dan mungkin akan terus bertambah lagi. Tidak cukup dengan gempa dan tsunami saja, kini rakyat Jepang juga terancam radiasi dari zat-zat radioaktif yang bocor akibat kebocoran PLTN ( Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir ) di Fukushima, beberapa reaktor Nuklir bahkan meledak. Dan menurut berita terakhir bahkan radiasi nuklir mengancam Tokyo ibukota Jepang.
Pasokan listrik dan air bersih kini juga terhambat akibat rusaknya beberapa gardu listrik akibat gempa dan tsunami, dan juga tercemarnya air tawar oleh air laut yang meluap. Sehingga para pengungsi Jepang terpaksa hidup tanpa pasokan listrik dan air bersih yang memadai.

Sejumlah negara seperti Rusia, Uni Eropa dan Meksiko sudah mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk Jepang, begitu juga Indonesia yang juga akan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke sana, terutama untuk mengevakuasi warga negara Indonesia.

MAJU TETAPI TIDAK LOGIS

Jepang adalah negeri Majusi, majusi adalah sebutan orang Arab untuk mereka kaum penyembah matahari. Jepang menyembah dewa yang disebut Teno Heika, dan bagi mereka yang masih memegang tradisi Majusi percaya bahwa bangsa Jepang adalah keturunan dewa matahari.

Agama Jepang adalah Shinto, Agama Shinto adalah agama campuraduk antara agama Budha dengan kepercayaan lokal Jepang. Nah dari campuraduk atau gado-gado inilah agama Shinto berasal.
Negeri dengan cerita para Ksatria Samurai dan Ninja yang legendaris ini sangatlah maju dalam bidang ekonomi, teknologi, dan Ilmu Pengetahuan. Orang Jepang sudah mmapu menciptakan robot resepsionis, robot pelayan restoran dan beberapa teknologi robotik canggih lainnya, sistem transportasi umumnya juga canggih, sistem pelayanan kereta api terkomputerisasi dengan sangat akurat, sehingga jarang sekali ada kereta api yang molor dari jadwal kedatangan dan keberangkatan, segala jenis kemajuan iptek dan sains ada di Jepang, tak mengherankan banyak mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di sana, perekonomian Jepang juga sangat maju, nilai ekspor ke luar negerinya sangat tinggi, dan Jepang adalah salah satu macan perekonomian Asia. Namun di sisi lain bangsa Jepang sangat katro dan primitif dalam hal nilai-nilai relijiusitasnya, atau nilai-nilai agamanya.

Sebagai contohnya setiap akhir pekan para penduduk Jepang banyak yang mengunjungi kuil-kuil Sintho di kota-kota besar seperti Tokyo, mereka membeli selembar kertas ramalan seharga 500 Yen atau Rp.50.000,- kemudian setelah ramalan di baca maka mereka membakar kertas ramalan tersebut, mereka sangat percaya pada tulisan yang tertulis pada kertas tersebut.
Selain itu mereka melemparkan uang logam ke arah bawah patung Budha, hal ini dipercaya akan membawa keberuntungan, dan ketika uang logam yang berada di bak penampung di bawah patung Budha itu penuh maka secara otomatis tutup bagian bawahnya membuka, dan tebak saja, beberapa orang yang berpenampilan seperti orang tidak waras telah menunggu di bawahnya untuk memunguti uang recehan itu. Hmm... yang waras mana? Yang tidak waras mana ??.

Menurut Hassan Ko Nakata ( cendekiawan Muslim Jepang ), sebagian orang Jepang menganggap agama sudah out of mind ( dah gak kepikiran lagi ). Paham Sekulerisme telah merusak moral orang Jepang, kini mereka hanyalah bebek-bebek peradaban barat yang sudah terbukti rusak dan menyesatkan. Akibat paham sekulerisme inilah maka lahirlah Maria Ozawa ( Miyabi ),Asia Carera, Sora Aoi, Rin Sakuragi dan sebagainya ( lhooo... kok penulis hafal, jangan-jangan... huss, bukan begitu, penulis tahu karena baca), kita tahu mereka artis-artis porno Jepang, dan cukup terkenal di dunia persilatan eh perpornoan, sampai-sampai Ariel PeterPoren ikut-ikutan...wah-wah, emang monyet semua.
Hasan Ko Nakata ( Cendekiawan Muslim Jepang )

Orang Jepang biasa bergonta-ganti ritual agama, misalnya ketika mereka menikah mereka menggunakan tatacara agama Kristen, namun ketika upacara kematiannya mereka menggunakan tatacara agama Budha atau Shinto. Tingkat bunuh diri di Jepang pun tinggi, selain karena tuntutan hidup dan pekerjaan yang sangat tinggi, juga karena mereka tidak punya pegangan moral berupa nilai-nilai agama.

Yah itulah sekilas tentang Jepang yang maju dan logis dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan, namun sangat katro dan primitif dalam hal agama. Kemajuan teknologi dan Sains Jepang terjadi tanpa ada nilai-nilai reliji yang mengiringi.

KEMAJUAN ISLAM BERBEDA DENGAN KEMAJUAN JEPANG DAN BARAT





Kemajuan Islam yang pernah terjadi di masa lalu dan Insya Allah akan terjadi kembali dengan bangkitnya Negara Khilafah Islamiyah, sangatlah berbeda dengan kemajuan Jepang maupun kemajuan barat lainnya.

Kemajuan Sains dan teknologi yang sering penulis postingkan adalah kemajuan dari taraf berpikir cemerlang kaum muslimin dalam memahami agamanya yaitu Islam. Dalam ayat-ayat Al Quran disebutkan banyak sekali tentang rahasia alam semesta untu manusia gali, dan eksplorasi berdasarka akal yang dikaruniakan Allah Swt kepada mereka. Tentu saja karena surat yang pertama turun saja berbunyi “Iqra’” atau bacalah, yaitu surat Al Alaq.
Berbeda dengan kemajuan Jepang dan kemajuan barat, kemajuan yang mereka capai adalah kemajuan untuk memenuhi hawa nafsunya, kita tahu barat banyak berlajar dari Islam, sebut saja ahli-ahli barat seperti Copernicus, mereka adalah orang-orang barat yang menimba ilmu di negara Khilafah dan membawa ilmunya ke Eropa, dan membawa kemajuan di negerinya.

Namun kemajuan mereka adalah kemajuan yang tanpa iman, mereka maju namun bodoh, mereka maju namun tidak mampu mengetahui siapa pencipta Alam Semesta ini yaitu Allah Swt. Kemajuan mereka hanyalah sebatas meneruskan dari kemajuan sebelumnya, yaitu kemajuan Islam, tanpa mengambil Islam sebagai agama mereka. Sehingga yang terjadi bukanlah berkah, namun kerusakan demi kerusakan di tengah-tengah umatnya.

MURKA ALLAH SWT DATANG
Yah gempa dan tsunami itu adalah wujud murka Allah, dan untuk menunjukkan kekuasaan Allah Swt yang nyata atas bangsa Jepang dan seluruh umat manusia di dunia. Memang Jepang terletak di lempeng Benua, sehingga secara ilmu seismologi sangatlah rawan gempa, namun sekali lagi hanya Allah saja yang mampu menimpakan gempa dan tsunami itu bagi bangsa Jepang. Karena Allah Swt yang menciptakan bumi, tanah dan air, sehingga Dia Maha Kuasa atas semua itu.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN
Sebagai umat Islam, maka sudah selayaknya kita kembali mengambil alih kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari peradaban kapitalis barat yang rusak dan sesat, yaitu dengan menerapkan suatu pendidikan yang berbasis kurikulum Islam yang kaffah dan mendasarkan pada Ideologi Islam.
Namun hal itu tidak akan terwujud jika Syariat Islam tidak diterapkan secara menyeluruh ( kaffah ), dan syariat Islam akan terlaksana secara Kaffah jika ada negara yang bisa menerapkannya, yaitu negara Khilafah Islamiyah.

Jika Ideologi Islam sudah diterapkan maka seluruh literatur sains akan diterjemahkan dan dipelajari secara ideologis oleh umat Islam, layaknya jaman dahulu ketika ilmu pengetahuan Mesir dan Yunani Kuno dipelajari umat Islam. Dan nantinya kemajuan dan kemuliaan Islam akan dapat diraih dan orang-orang kafir akan melihat kejayaan dan kemuliaan Islam secara nyata, sehingga mereka mau masuk Islam secara sukarela dan berbondong-bondong. Sebagaimana firman Allah Swt dalam surat An Nasr :

1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
2. Dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.

Dan tidak ada Kemuliaan tanpa Islam, tidak akan tegak Islam tanpa Syariat dan tidak akan tegak Syariat tanpa Negara Khilafah Islam.

7 Rombongan Iblis Saat Sakaratul Maut

Iblis akan senantiasa mengganggu manusia, mulai dengan memperdayakan manusia dari terjadinya dengan setitik mani hingga ke akhir hayat mereka, dan yang paling dahsyat ialah sewaktu akhir hayat yaitu ketika sakaratul maut. Iblis mengganggu manusia sewaktu sakaratul maut disusun menjadi 7 golongan dan rombongan.

Hadith Rasulullah S.A.W. menerangkan:
"Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari tipuan syaitan diwaktu sakaratul maut. "

Rombongan 1
Akan datang Iblis dengan berbagai rupa aneh seperti emas, perak dan lain-lain, serta sebagai makanan dan minuman yang lezat-lezat. disebabkan orang yang di dalam sakaratul maut itu di masa hidupnya sangat tamak dan loba kepada barang-barang tersebut, maka diraba dan disentuhnya barang2 Iblis itu, pada waktu itu nyawanya putus dari tubuh. Inilah yang dikatakan mati yang lalai dan lupa kepada Allah SWT inilah jenis mati fasik dan munafik, ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 2
Akan datang Iblis kepada orang yang didalam sakaratul maut itu merupakan diri sebagai rupa binatang yang di takuti seperti, Harimau, Singa, Ular yang berbisa. Yang apabila orang yang sedang sakaratul maut itu memandang ke binatang itu, maka dia pun menjerit dan melompat sekuat hati. Maka seketika itu juga akan putuslah nyawa itu dari badannya, maka matinya itu disebut sebagai mati lalai dan mati dalam keadaan lupa kepada Allah SWT, matinya itu sebagai Fasik dan Munafik dan ke nerakalah tempatnya.

Rombongan 3
Akan datang Iblis mengacau dan memperdayakan orang yang di dalam sakaratul maut itu dengan menyerupai binatang kesayangannya. Apabila tangan orang yang hendak mati itu meraba-rabakepada binatang kesayangan itu dan waktu tengah meraba-raba itu dia pun mati, maka matinya itu di dalam golongan yang lalai dan lupa kepada Allah SWT. Matinya itu mati Fasik dan Munafik, maka nerakalah tempatnya.

Rombongan 4
Akan datang Iblis merupakan dirinya sebagai rupa yang paling dibenci oleh orang yang akan mati, seperti musuhnya ketika hidupnya dahulu maka orang yang di dalam sakaratul maut itu akan menggerakkan dirinya untuk melakukan sesuatu kepada musuh yang dibencinya itu. Maka sewaktu itulah maut pun datang dan matilah ia sebagai mati Fasik dan Munafik, dan nerakalah tempatnya

Rombongan 5
Akan datang Iblis merupakan dirinya dengan rupa sanak-saudara yang hendak mati itu, seperi ayah ibunya dengan membawa makanan dan minuman, sedangkan orang yang di dalam sakaratul maut itu sangat mengharapkan minuman dan makanan lalu dia pun menghulurkan tangannya untuk mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh si ayah dan si ibu yang dirupai oleh Iblis, berkata dengan penuh kasih "Wahai anakku inilah saja makanan dan bekal yang kami bawakan untukmu dan berjanjilah bahwa engkau akan menurut kami dan menyembah Tuhan yang kami sembah, supaya kita tidak lagi bercerai dan marilah bersama kami masuk ke dalam syurga. "

Maka dia pun sudi mengikut tawaran itu dengan tanpa berfikir lagi, ketika itu waktu matinya pun sampai maka matilah dia di dalam keadaan kafir, kekal di dalam neraka dan terhapuslah semua amal kebajikan semasa hidupnya.

Rombongan 6
Akan datanglah Iblis merupakan dirinya sebagai ulama'-ulama' yang membawa banyak kitab-kitab, lalu berkata ia: "Wahai muridku, lama sudah kami menunggu akan dikau, ternyata kamu sedang sakit di sini, karena itu kami bawakan kepada kamu dokter dan obat untukmu. " Lalu diminumnya obat, itu maka hilanglah rasa penyakit itu, kemudian penyakit itu datang lagi.

Lalu datang pula Iblis yang menyerupai ulama' dengan berkata: "Kali ini kami datang kepadamu untuk memberi nasihat agar kamu mati didalam keadaan baik, tahukah kamu bagaimana hakikat Allah?"
Berkata orang yang sedang dalam sakaratul maut: "Aku tidak tahu. "

Berkata ulama' Iblis: "Ketahuilah, aku ini adalah seorang ulama' yang tinggi dan hebat, baru saja kembali dari alam ghaib dan telah mendapat syurga yang tinggi. Cobalah kamu lihat syurga yang telah disediakan untukmu, kalau kamu hendak mengetahui Zat Allah SWT hendaklah kamu patuh kepada kami. "

Ketika itu orang yang dalam sakaratul maut itu pun memandang ke kanan dan ke kiri, dan dilihatnya sanak-saudaranya semuanya berada di dalam kesenangan syurga, (syurga palsu yang dibentangkan oleh Iblis untuk tujuan menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut). Kemudian orang yang sedang dalam sakaratul maut itu bertanya kepada ulama' palsu:
"Bagaimanakah Zat Allah?" Iblis merasa gembira apabila jeratnya mengena.

Lalu berkata ulama' palsu: "Tunggu, sebentar lagi dinding dan tirai akan dibuka kepadamu. "
Ketika tirai dibuka selapis demi selapis tirai yang berwarna warni itu, maka orang yang dalam sakaratul maut itu pun dapat
melihat satu benda yang sangat besar, seolah-olah lebih besar dari langit dan bumi.

Berkata Iblis: "Itulah dia Zat Allah yang patut kita sembah. "
Berkata orang yang dalam sakaratul maut: "Wahai guruku, bukankah ini benda yang benar-benar besar, tetapi benda ini mempunyai enam sisi, yaitu benda besar ini ada kiri dan kanannya, mempunyai atas dan bawah, mempunyai depan dan belakang.

Sedangkan Zat Allah tidak menyerupai makhluk, sempurna Maha Suci Dia dari sebarang sifat kekurangan. Tapi sekarang ini lain pula keadaannya dari yang di ketahui dahulu. Tapi sekarang yang patut aku sembah ialah benda yang besar ini. "

Dalam keraguan itu maka Malaikat Maut pun datang dan terus mencabut nyawanya, maka matilah orang itu di dalam keadaan kafir dan kekal di dalam neraka dan terhapuslah segala amalan baik selama hidupnya di dunia ini.

Rombongan 7
Rombongan Iblis yang ketujuh ini terdiri dari 72 barisan sebab dari menjadi 72 barisan ialah karena dia menepati Iktikad Muhammad S.A.W bahwa umat Muhammad akan terbagi kepada 73 barisan). Satu barisan/golongan yang benar yaitu ahli sunnah waljamaah, 72 yang lain masuk ke neraka karena sesat.

Ketahuilah bahwa Iblis itu akan mengacau dan mengganggu anak Adam dengan 72 macam yang setiap satu berlainan di dalam waktu manusia sakaratul maut. Oleh karena itu hendaklah kita mengajarkan kepada orang yang hamper meninggal dunia akan talkin Laa Ilaaha Illallah untuk menyelamatkan dirinya dari gangguan Iblis dan syaitan yang akan berusaha bersungguh-sungguh menggoda orang yang sedang dalam sakaratul maut.

Disebutkan dalam sebuah hadith yang artinya: "Ajarkan oleh kamu (orangyang masih hidup) kepada orang yang hampir mati itu: Laa Ilaaha Illallah. "

BENARKAH TEMBOK CINA ADALAH TEMBOK Zulkarnain ?

Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al Kahfi. Dan yang disebut Ya’juj dan Ma’juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.

Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dst. Sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al Kahfi ayat 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman,
“Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?

Misteri Letak Penjara Yajuj dan Majuj
QS. Al-Kahfi: 94
“Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka ?”
QS. Al-Anbiya: 96
“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.”

Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits
Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi SAW, berkata;
“Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini !” beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah SAW, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih ?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.”
(HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)

Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj dalam QS. Al-Kahfi : 94
Ya-juj dan Ma-juj menurut ahli lughah ada yang menyebut isim musytaq (memiliki akar kata dari bhs. Arab) berasal dari AJAJA AN-NAR artinya jilatan api. Atau dari AL-AJJAH (bercampur/sangat panas), al-Ajju (cepat bermusuhan), Al-Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan MAF’UL dan YAF’UL / FA’UL. Menurut Abu Hatim, Ma-juj berasal dari MAJA yaitu kekacauan. Ma-juj berasal dari Mu-juj yaitu Malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya-juj dan Ma-juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan).
Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia. Mereka berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam AS dan Hawa atau dari Adam AS saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh AS dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh AS mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts Bin Nuh. Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk, Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin.

Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina. Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H.

Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya.Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.

Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membabad semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.
Siapakah Dzulkarnain ? Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir. Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM - 552 M.).

Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.

Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

Beberapa penelitian tembok ja'juj ma'juj

Pegunungan sekitar Tembok Yajuj dan Majuj
Danau dekat Tembok Yajuj & Majuj
Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.

Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.

Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di perunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam mahupun Rusia, terletak di republik Georgia.

Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.

Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.

27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.

Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, membunuh, suku-suku lain. Mereka pembuat onar, dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.

Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.

Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.
DI sebalik pembinaan kota besar hasil kemajuan pembangunan dan kemodenan yang melanda hampir seluruh pelusuk dunia hari ini, masih terdapat satu kawasan rahsia di muka bumi ini yang menyimpan ribuan makhluk misteri.

Sehingga kini, penerokaan demi penerokaan di seluruh kawasan bumi masih belum menemui wilayah asing itu sekali gus menyebabkan kewujudan makhluk terbabit tidak akan dikenal pasti pengkaji atau manusia umumnya.

Bagaimanapun, kewujudan makhluk itu adalah sahih dan suatu hari nanti, mereka akan muncul juga di hadapan manusia. Akan tetapi, ketika makhluk itu muncul, sudah terlambat untuk manusia berbuat apa-apa lagi.

Tiada lagi kajian mengenai sejarah kewujudan atau penyelidikan sains dilakukan terhadap makhluk itu seperti penemuan artifak atau spesies baru ketika ini kerana sewaktu munculnya makhluk dikenali Yakjuj dan Makjuj itu, dunia sudah terlalu hampir dengan kiamat!

Sejak dikurung ribuan tahun lalu, kewujudan dan lokasi ‘pusat tahanan’ Yakjuj dan Makjuj masih menjadi misteri kepada manusia.

Bagaimanapun, kewujudan dua makhluk itu adalah pasti lantaran ia dinyatakan dalam al-Quran serta tergolong dalam perkara ghaib yang wajib diimani manusia menerusi tanda besar berlakunya kiamat.

Pensyarah Jabatan Al-Quran dan Al-Hadith, Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya (API-UM), Prof Madya Dr Fauzi Deraman, berkata Yakjuj dan Makjuj bukanlah berupa haiwan atau spesies lain sebaliknya ia adalah manusia yang berasal daripada keturunan Nabi Adam AS.

Katanya, mengikut hadis, bangsa Yakjuj dan Makjuj berasal daripada keturunan anak lelaki Nabi Nuh AS iaitu Yafis yang berkembang melewati masa sehinggalah Zulkarnain membina tembok bagi menghalang mereka keluar dari lokasi mereka.

“Cerita mengenai sejarah Yakjuj dan Makjuj tertera dalam al-Quran menerusi surah al-Kahfi, ayat ke-92 hingga 98 manakala kebangkitan mereka dinyatakan dalam surah an-Anbiyaa’, ayat ke-96 dan 97,” katanya.

Allah berfirman menerusi ayat surah al-Kahfi itu: “Kemudian dia (Zulkarnain) menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia sampai antara dua gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.

“Mereka berkata: ‘Hai Zulkarnain, sesungguhnya Yakjuj dan Makjuj itu orang yang membuat kerosakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?’.

“Zulkarnain berkata: ‘Apa yang dikuasakan Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan peralatan), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka. Berilah aku potongan-potongan besi’.

“Hingga apabila besi itu sudah sama rata dengan kedua-dua (puncak) gunung itu, berkatalah Zulkarnain: ‘Tiuplah (api itu)’. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan ke atas besi panas itu.

“Maka mereka tidak dapat mendakinya dan mereka tidak dapat melubanginya. Zulkarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat daripada Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku (kiamat), Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar’.”

Dalam ayat surah an-Anbiyaa’ pula, Allah berfirman: “Hingga apabila dibukakan (tembok) Yakjuj dan Makjuj; dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan sudah dekatlah kedatangan janji yang benar (kaimat) maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.”

Dr Fauzi berkata, selain dua surah al-Quran itu, terdapat banyak hadis kuat yang membicarakan mengenai Yakjuj dan Makjuj tetapi terdapat juga perbezaan pendapat di kalangan ulama mengenai ciri-ciri bangsa itu yang tidak diterangkan nas.

“Hadis riwayat Imam Ahmad pula menerangkan ciri fizikal Yakjuj dan Makjuj yang antara lain bermuka bulat dan kulit kekuningan seperti wajah kebanyakan penduduk Asia Tengah.

“Ulama juga cenderung mengatakan Yakjuj dan Makjuj berasal dan dikurung di benua Asia Tengah berdasarkan tafsiran ayat ke-90 dari surah al-Khafi yang menyebut Zulkarnain sampai ‘di tempat terbit matahari’ iaitu timur dunia,” katanya.

Pendapat lain menambah yang Yakjuj dan Makjuj berkemungkinan berasal daripada bangsa Tartar dan Mongul manakala lokasi tahanan mereka adalah kawasan pergunungan luas Caucasus.

Beliau berkata, kebanyakan ulama menyatakan yang bangsa itu terus wujud sehingga kini tetapi dipisahkan daripada dunia manusia oleh Allah SWT menerusi tembok dibina Zulkarnain itu.

Katanya, tugas bangsa itu setiap hari sejak ribuan tahun lalu adalah mengorek tembok itu untuk tembus ke dunia manusia tetapi Allah masih menghalang mereka dengan kembali meneguhkan benteng berkenaan sehinggalah hampirnya hari kiamat.

“Allah akan mengizinkan tembok itu runtuh dan Yakjuj dan Makjuj bebas ke dunia manusia apabila hampirnya kiamat dan peristiwa itu menjadi satu daripada 10 tanda besar kiamat,” katanya.

Yakjuj dan Makjuj juga muncul selepas kematian Dajal yang dibunuh Nabi Isa AS dan bangsa itu akan mendatangkan kerosakan besar di muka bumi. Kekuatan mereka dikatakan luar biasa dan terlalu hebat sehingga tiada sesiapa yang mampu menewaskan kumpulan itu.

“Nabi Isa AS memerintahkan manusia yang masih beriman berlindung di pergunungan bagi mengelak menjadi mangsa Yakjuj dan Makjuj; baginda kemudian berdoa kepada Allah SWT dan Allah membinasakan mereka dengan mengutuskan ulat yang menyerang belakang badan golongan itu sehingga mati.

“Selepas bangsa Yakjuj dan Makjuj mati serta menjadi busuk, Allah mengutuskan seekor burung besar untuk mengangkut dan membersihkan mayat itu dari bumi,” katanya.

Menyoroti dalil kewujudan Yakjuj dan Makjuj, manusia seharusnya yakin mempertahankan akidah Islam dan tidak bertangguh memohon keampunan dan keredaan Allah kerana mereka yang masih lalai adalah golongan yang diterangkan dalam surah an-Anbiyaa’ di atas seperti firman-Nya: “(Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian mengenai ini, bahkan kami adalah orang yang zalim’.”

Misteri Ya’juj dan Ma’juj

Diantara tanda-tanda kiamat besar adalah keluarnya Ya’juj dan Ma’juj. Para ulama berbeda pendapat tentang nasab mereka. Ada yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Adam.

Al Hafizh Ibnu Hajar lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa mereka adalah dua kabilah dari keturunan Yafits bin Nuh, yang keduanya adalah keturunan dari Adam dan Hawa. Hal ini diperkuat oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Said al Khudriy bahwa Nabi saw bersabda,”’Wahai Adam.’ Adam berkata,”Labbaik wa sa’daik dan kebaikan ada pada-Mu.’ Allah berfirman,”Keluarkanlah ba’sannnar.” Adam bertanya,”Apa itu ba’tsannar?” Allah

Mengapa Imam Syi'ah Harus Menyembunyikan Kebenaran? [2]

Apakah kita bisa mempercayai ucapan imam Syi'ah? Jangan-jangan dia bertaqiyah? Bagaimana cara membedakan ucapan imam yang diucapkan saat bertaqiyah dan tidak?


Taqiyah dan Ilmu Ghaib

Banyak riwayat syi’ah menyatakan bahwa para imam memiliki kekuatan untuk mengetahui hal-hal ghaib?

Imam menjawab pertanyaan dengan taqiyah karena takut fatwanya didengar oleh mata-mata, akhirnya imam berbohong dalam fatwanya untuk menipu si penanya seolah-olah dia bukanlah imam atau ulama, tapi orang jahil atau pengikut ahlussunah.

Kitab syi’ah memuat ratusan riwayat yang menegaskan bahwa para imam syiah mengetahui apa yang ghaib, mengetahui apa yang sudah terjadi dan apa yang terjadi di masa depan, jika dia ingin mengetahui sesuatu maka dapat segera mengetahui, apakah imam tidak tahu apakah orang yang datang bertanya apakah dia merupakan pengikutnya atau bukan?

Mengapa Imam Syi'ah Harus Menyembunyikan Kebenaran? [1/2]

Membongkar Hakekat Syi'ah - Imam syi'ah yang konon memiliki banyak mukjizat, ternyata masih harus bertaqiyah, menyembunyikan kebenaran karena takut. Apa yang ditakutkan oleh Imam Syi'ah yang konon adalah manusia paling pemberani di jamannya? Al Mufid [seorang ulama Syi'ah] mengatakan: seorang imam harus bersifat paling pemberani di antara umatnya [Al Iqtishad hal 312]

Para pemalsu riwayat dari ahlulbait membuat ajaran baru yang dapat menjaga dan memelihara kebohongan mereka. Tetapi sebenarnya ajaran ini dapat menghancurkan/mengungkap kebatilan prinsip imamah, bahkan membuat agama menjadi batil, ajaran ini adalah taqiyah, atau kebohongan yang dilakukan dengan sengaja.

Mereka yang memalsu riwayat dari para imam tidak tinggal di tempat yang sama, juga hidup pada jaman yang berbeda-beda, juga tidak sepakat atas satu pendapat, jika ada seseorang memalsukan riwayat dari imam, ada juga orang lain yang memalsu riwyat dari imam, yang mana dua riwayat tu aling bertentanga, jalan keluar sudah siap: salah satu yang berbohong melakukan taqiyyah

Taqiyyah dalam Islam

Taqiyyah dalam terminologi syi’ah bukanlah taqiyyah yang diperbolehkan oleh Allah pada saat dalam ketakutan –Allah tidak mewajibkan taqiyah-, tetapi syi’ah beranggapan bahwa taqiyah adalah wajib, yang meningaglkan taqiyah sama dengan meninggalkan agama –menurut riwayat yang ada-.
Sedangkan taqiyah yang sah dalam Islam, bisa jadi seorang muslim hidup hingga meninggal dunia sedangkan dia belum pernah melakukan taqiyah, karena hukumnya mubah, bukan sebuah kewajiban.

Allah berfirman:
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orangyang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. 16:106)

Thabari menukil riwayat dari Ibnu Abbas, dia mengatakan : Allah memberitahukan bahwa orang yang kafir setelah beriman, maka dia akan terkena murka dari Allah dan siksa yang pedih, tetapi siapa yang dipaksa dan mengucapkan kekafiran tetapi hatinya tetap beriman, agar bisa selamat dari musuh, maka hal itu tidak mengapa, karena Allah hanya menilai seorang hamba dengan apa yang diyakini oleh hati. Dari Tafsir Thabari

Allah berfirman:
Janganlah orang-orang mu'min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (QS. 3:28)

Thabari juga menukil riwayat dari Ibnu Abbas: Allah berfirman () Allah melarang orang beriman untuk berlemah lembut terhadap orang kafir, atau menjadikan mereka sebagai teman dekat, bukannya orang beriman, kecuali ketika orang kafir dalam kondisi kuat, maka boleh memperlihatkan sikap lemah lembut pada mereka, dengan tetap menyelisihi agama mereka, inilah yang dimaksud dalam firman Allah : ()

Kedua ayat di atas menjelaskan hukum asal, lalu menambahkan perkecualian, maka menunjukkan hukum perbuatan itu adalah mubah, bukanlah sebuah perintah dan ajaran agama yang diwajibkan, seperti jelas dimaksud dalam ayat di atas
Inilah taqiyah dalam Islam.

Taqiyah menurut syi’ah

Menurut syi’ah, taqiyyah adalah agama itu sendiri, terdapat banyak riwayat yang konon bersumber dari ahlul bait, di antaranya:

Ja’far As Shadiq mengatakan: taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.

Ja’far juga mengatakan: tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah,

Begitu juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: Taqiyyah adalah agamaku dan agama kakek-kakekku. Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kita Al kafir, Bab Taqiyyah, jilid 2 hal 217. Tidak mungkin ahlul bait mengucapkan demikian.

Ulama syi’ah telah sepakat menekankan ajaran ini, bahkan menganggapnya sebuah rukun yang harus dikerjakan, seperti halnya shalat.

Ibnu Babawaih Al Qummi, salah seorang ulama besar syi’ah, mengatakan: kami meyakini bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti meninggalkan shalat. [Al I’tiqadat hal 114]

Begitulah, taqiyah yang berarti menipu dijadikan sebagai ajaran agama yang dapat mendekatkan diri pada Allah, bahkan menipu ini menjadi 90% dari agama, ini artinya orang yang selalu berbohong dan menipu dalam ucapan dan perbuatannya setiap hari maka telah melakukan 90% ajaran agama.

Celakanya lagi, menipu seperti ini bukan hanya ajaran dari seorang imam saja, bahkan telah menjadi agama seluruh keluarga Nabi, termasuk di dalamnya Nabi sendiri, seperti tercantum dalam riwayat mereka, akan lain persoalannya jika para imam tidak mengaitkan ajaran itu dengan ajran Nabi, dan menganggap ajaran agama mereka bukan agama yang dibawa oleh Nabi, inilah yang kita pahami dari ucapan imam syi’ah: [dan agama kakek kakek saya].

Apakah ad orang berakal yang dapat menerima hal ini dan menganggap taqiyah atau menipu adalah ajaran Allah yang diturunkan untuk memperbaiki akhlak dan menanamkan nilai kejujuran, sikap terus terang dan memperlakukan manusia dengan jujur, dalam perilaku manusia agar kehidupan menjadi tenteram dan berkembang dalam kerangka amanat, kejujuran dan terus terang?

Anggap saja kita percaya dengan riwayat di atas, apa konsekuensinya?

Meyakini hal di atas memiliki beberapa konsekuensi :

1. berarti agama yang diturunkan oleh Allah adalah agama taqiyah atau menipu
menipu adalah perbuatan tercela yang dibeni oleh seluruh agama dan masyarakat di dunia ini, bahkan pada jaman jahiliyah sekalipun, yang mana pada jaman jahiliyah seseorang merasa gengsi untuk menipu, apalagi menjadikan menipu dalam rangka untuk mencari pahala, apakah masuk akal Allah menurunkan ajaran agama yang mana 90% dari ajaran itu adalah menipu?

2. jika memang taqiyah adalah ajaran agama, orang yang tidak bertaqiyah tidak beragama alias kafir, juga taqiyah adalah ajaran selurhu ahlulbait, dan taqiyah adalah 9 dari 10 ajaran agama, bagaimana kita bisa percaya bahwa Nabi telah menyampaikan seluruh ajaran agama, bisa jadi Nabi menyembunyikan sebagian ajaran agama karena bertaqiyah, karnea taqiyah adalah ajaran agama Nabi, seperti tercantum dalam riwayat syi’ah, astaghfirullah, tidak mungkin Nabi dan ahlul bait meyakini seperti itu.

3. jika memang taqiyah adalah ajaran agama apa yang menjamin segala sabda Nabi bukan merupakan taqiyah? Padahal yang benar adalah berlawanan dari yang disabdakan oleh Nabi?

4. jika memang taqiyah adalah ajaran agama, siapa yang menjamin bahwa para imam tidak bertaqiyah?

5. jika memang taqiyah adalah ajaran agama, lalu apa gunanya imam? Karena tujuan dari adanya imam adalah untuk menyampaikan kebenaran kepada umat manusia, tetapi jika imam malah menyembunyikan kebenaran dan meremehkan agama untuk keselamatan pribadinya lalu apa gunanya dia menjadi imam?

6. jika memang taqiyah adalah ajaran agama lalu bagaimana kita bisa membedakan bahwa imam melakukan suatu perbuatan dalam keadaan bertaqiyah atau tidak? Bagaimana kita bisa menyelesaikan perselisihan dan perbedaan pendapat yang timbul akibat perbuatan imam?

Sedangkan menurut syi’ah, salah satu fungsi dari keberadaan imam adalah untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dan perselisihan, tetapi imam malah dengan sengaja menimbulkan perbedaan pendapat baru, karena mengajarkan ajaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan kebenaran –karena bertaqiyah- akhirnya membuat pengikutnya menjadi bingung dan bersilang selisih.

Imam memerlukan pengikutnya untuk menyelesaikan perbedaan.

Maka imam memerlukan pengikutnya agar mereka dapat meramalkan ucapan imam, mana yang taqiyah dan mana yang tidak, maka pengikut para imam menyusun kitab yang menerangkan bahwa ini adalah taqiyah dan ini adalah tidak, seperti At Thusi yang menyusun dua judul kitab; tahzzhib dan istibshar, yang disusun khusus untuk tujuan di atas.

Pengikut imam memiliki keberanian lebih daripada para imam, karena si pengikut berani berterus terang mengucapkan apa yang tidak berani diucapkan oleh para imam, dan para pengikut itulah yang dapat memberi manfaat pada umat daripada imam, karena merekalah yang menyelesaikan perbedaan pendapat, bukannya para imam.

At Thusi –yang juga dijuluki oleh syiah dengan syaikhut tha’ifah- menuliskan pada pengantar kitab Tahzibul Ahkam:
Kawan-kawan yang memiliki hak yang harus kami tunaikan pada mereka, mereka menyebutkan perbedaan dan kontradiksi yang ada pada hadits-hadits mazhab kami, sampai setiap hadits yang ada pasti ada hadits lain yang membantahnya, dan hal itu dijadikan sebagai bahan untuk menyerang mazhab kami, bahkan membuat musuh dapat menerangkan kebatilan mazhab kami, …..

Beberapa baris kemudian At Thusi menambahkan:
Dia menemui beberapa kelompok yang tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang hadis dan makna-makna lafal hadits, banyak dari mereka keluar dari mazhab yang benar ini, karnea mereka tidak dapat memecahkan keraguan yang ada akibat kontradiksi itu, saya mendengar syaikh Abu Abdullah menyebutkan bahwa Abu Husein Al Harudi Al Alawi dia memeluk mazhab kebenaran –syi’ah- dan beriman pada imamah, lalu keluar dari mazhab karena tidak bisa memecahkan keraguan yang timbul akibat kontradiksi hadits yang ada pada kami, dia meninggalkan mazhab kebenaran dan memeluk mazhab lain karena tidak bisa memecahkan kontradiksi yang ada [tahzibul ahkam jilid 1 hal 2-3]

Lihatlah bagaimana syaikh thaifah mengakui bahwa setiap riwayat pasti ada riwayat yang membantahnya, yang membuat akal sebagian syi’ah bekerja kembali lalu meninggalkan mazhab syi’ah, seperti dijelaskan di atas.

Mengapa imam yang datang kemudian tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh imam sebelumnya?

Jika seorang imam yang terdahulu mengeluarkan sebuah fatwa atau keputusan yang mengandung taqiyah mengapa imam yang datang kemudian tidak memberitahukan pada pengikut syi’ah bahwa fatwa atau ucapan ayahnya itu adalah taqiyah? Mengapa tetap ada riwayat yang kontradiktif? Padahal imam yang datang setelah imam yang terdahulu dan tidak menjelaskan taqiyah yang dilakukan oleh imam sebelumnya, hingga kemudian ulama syi’ah menyimpulkan sendiri tanpa adanya bukti otentik dari para imam, hanya menggunakan perkiraan, kita tidak tahu apakah ucapan ulama ini benar atau tidak.

Dari keterangan di atas, kita bisa amenyimpulkan bahwa ulama syi’ah lah yang sebenarnya layak disebut sebagai imam, karena dialah yang menyelesaikan perselisihan yang timbul akibat fatwa imam yang kontradiktif. Bahkan ulama syi’ah bisa disebut sebagai “imam nya para imam” karena menyelesaikan kontradiksi yang timbul dari ucapan seluruh imam syi’ah.

Para imam syi’ah yang membuat orang jadi bingung, hingga sebagian pengikut syi’ah keluar dari syi’ah karena kontradiksi dari para imam, sebenarnya mereka tidak layak disebut imam.

Yang Tersisa Dari Karbala


Ada cerita menarik dari Karbala yang sengaja dirahasiakan oleh syi'ah, mau tahu? baca selengkapnya...

Ada bagian penting yang sering tertinggal dari sejarah Imam Husein, nampaknya bagian yang penting ini sangat jarang sekali dibahas, sehingga pembaca yang ditakdirkan melewatkan pandangannya pada tulisan kali ini sangat beruntung, karena menemukan pembahasan yang hampir belum pernah dibahas.

Kali ini pembaca akan menikmati uraian tentang anak-anak Imam Husein. Sebagaimana kita ketahui bersama, Imam Husein adalah seorang cucu Nabi, manusia yang dicintai oleh Nabi sebagaimana kita mencintai cucunya. Bahkan konon seorang kakek lebih mencintai cucunya dari ayah si cucu yang merupakan anaknya sendiri. Kecintaan nabi kepada Imam Husein begitu besar,begitu juga kepada kakaknya yaitu Imam Hasan. Kita sebagai orang beriman yang mencintai Nabi wajib mencintai mereka yang dicintai Nabi, termasuk cucundanya yang satu ini, sebagai bukti kecintaan kita kepada Kakeknya. Namun kecintaan kita kepada sang Kakek haruslah lebih besar.

Waktu kemudian berlalu sehingga Muawiyah Ra mangkat dan mengangkat Yazid sebagai khalifah. Imam Husein yang enggan berbaiat kepada Yazid segera melarikan diri ke mekkah. Sesampai di mekkah penduduk kota Kufah mengirimkan surat yang jumlahnya mencapai 12000 pucuk surat, yang isinya meminta sang Imam untuk berangkat ke Kufah, di mana penduduknya sudah bersiap sedia untuk membaiat Imam Husein sebagai khalifah. Di antara isi surat itu adalah memberitahu sang Imam bahwa di Kufah terdapat 100000 pasukan yang siap berdiri di belakangnya untuk melawan Bani Umayyah (Lihat kitab Faji'atu Thaff hal 6, karangan Muhammad Kazhim Al Qazweini) Membaca surat itu, sang Imam yakin akan kesiapan 100000 penduduk kufah yang telah siap dengan pedang terhunus untuk melawan dan "kezhaliman bani Umayah", Imam Husein akhirnya berangkat menuju kufah bersama keluarganya. Namun kali ini imam tertipu. Sebelum sampai ke kota Kufah rombongan beliau dicegat oleh tentara suruhan Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Saad. Ketika rombongan sang Imam dicegat, kita tidak mendengar 100000 pasukan yang konon siap membela Imam Husein itu ikut membela dan berperang melawan musuhnya, kita tidak tahu kemana perginya mereka, begitu juga 12000 orang yang menuliskan surat ketika sang Imam berada di mekkah. Jika 100000 orang yang mengaku pembela Imam itu ikut berada di padang Karbala, pasti "tentara bani umayah" dapat dengan mudah dikalahkan. Mereka yang memanggil sang Imam begitu saja lari dari tanggungjawab. Mereka tega membiarkan cucu sang Nabi terakhir dijadikan bulan-bulanan, mereka tega darah suci keluarga nabi tumpah akibat larinya mereka dari tanggungjawab. Di dunia mereka bisa lari, namun di akhreat kelak tidak. Sang Imam beserta rombongannya dibiarkan begitu saja menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku sebagai pengikut dan pembelanya. Rupanya inilah karakter mereka yang mengaku-aku dan sok menjadi pembela ahlulbait sejak zaman para imam.

Akhirnya sang Imam pun Syahid menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku menjadi pembelanya. Sang Imam Syahid beserta para keluarganya, di antaranya adalah : saudara sang Imam, putra Ali bin Abi Thalib : Abubakar, Umar, Utsman. Bisa dilihat di kitab Ma'alimul Madrasatain karangan Murtadha Al Askari, jilid 3 hal 127. juga dalam kitab Al Irsyad karangan Muhammad bin Nukman Al Mufid hal. 197, I'lamul Wara karangan Thabrasi hal 112, juga kitab Kasyful Ghummah karangan Al Arbali jilid 1 hal 440. ini adalah sebagian referensi saja, yang lainnya sengaja tidak kami sebutkan karena terlalu banyak. Sementara putra Imam Husein di antaranya : Abubakar bin Husain dan Umar.

Sampai di sini mungkin pembaca belum tersadar akan sebuah fenomena yang menarik. Kita lihat di sini Imam Ali dan Imam Husein menamakan anaknya dengan nama para perampas haknya. Kita ketahui bahwa syiah meyakini bahwa khilafah bagi Ali telah ternashkan dari ketentuan Allah dan RasulNya, sedangkan mereka yang tidak mengakui adanya nash dianggap merasa lebih pandai dari Nabi. Dalam sejarah diyakini oleh syiah bahwa Abubakar telah merampas hak yang semestinya menjadi milik Ali. Di antara bentuk protes Ali adalah khotbah syaqsyaqiyyah yang tercantum dalam sebuah literatur penting syiah yaitu kitab Nahjul Balaghah. Namun yang aneh di sini adalah Ali yang memberi nama anaknya dengan nama si perampas hak yang sudah tentu bagi syi'ah adalah dibenci Allah.

Begitu juga menamai anaknya dengan nama Umar, sang penakluk yang telah mengubur kerajaan persia untuk selamanya, dan orang yang konon memukul bunda Fatimah hingga keguguran. Sering kita dengar bahwa Umar telah memukul Fatimah, perempuan suci putri Nabi dan istri Ali hingga janin yang dikandungnya gugur, sungguh nekad orang yang berani memukul putri Nabi. Namun dalam sejarah tidak disebutkan pembelaan Ali terhadap istrinya yang dipukul, malah memberi nama anaknya dengan nama orang yang memukul putri Nabi yang sekaligus adalah istrinya. Sementara di sisi lain kita tidak pernah menemukan bahwa Ali memberi nama anaknya dengan nama ayahnya yang "tercinta" yaitu Abu Thalib. Begitu juga para imam ahlulbait tidak pernah tercantum bahwa mereka memberi nama anak mereka dengan nama Abu Thalib. Apakah para imam ahlulbait lebih mencintai Abubakar dibanding cinta mereka pada Abu Thalib, kakek mereka sendiri? Ternyata fakta berbicara demikian. Mengapa tidak ada seorang imam maksum –terbebas dari kesalahan dan dosa- yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Thalib? Jika ada yang mengatakan bahwa para Imam Ahlulbait memberi nama anak mereka dengan nama-nama musuh karena basa basi, apakah para imam begitu penakut sehingga harus berbasa basi dalam hal nama anak?

Ataukah para imam begitu hina mau dipaksa orang lain untuk memberi nama anaknya sendiri?

Al Qur'an di mata Syi'ah [1/3]

Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Qur'an yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya.

Jika kita menelaah literatur-literatur syiah, maka akan anda temui banyak riwayat juga pernyataan para ulama syiah yang menegaskan bahwa Al Qur’an yang dijadikan pedoman umat islam saat ini sudah bukan asli lagi, alias sudah dirubah. Jadi kitab suci yang ada pada umat islam sejak dulu sampai hari ini menurut syiah sudah bukan otentik lagi, alias ada ayat-ayat yang bukan lagi wahyu Allah, tetapi ada juga hasil tulisan tangan manusia. Selain diubah, nukilan-nukilan itu juga menyatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang dihapus. Intinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak seperti yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAAW.

Sampai di sini para pembaca mungkin merasa heran dan bertanya-tanya, apakah benar syiah menganggap demikian? Mungkin anda pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mengklarifikasi kepada teman atau tetangga anda yang syiah, dan dijawab oleh mereka bahwa hal itu semata-mata adalah fitnah dan tuduhan yang dihembuskan oleh musuh-musuh syiah, dari mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Lebih jauh lagi, mereka akan menuduh orang yang menebarkan hal itu sebagai antek zionis yahudi. Astaghfirullah

Mengklarifikasikan sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam mengklarifikasi sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur syiah untuk mengecek kebenaran berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab syiah yang menyatakan demikian atau tidak ada. Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda yang syiah adalah salah alamat? Ada beberapa sebab; bisa jadi teman, tetangga dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. bisa jadi dia adalah “anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab syiah. Di antaranya:

Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.

Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan ulama syiah mengenai ingkarnya mereka pada Al Qur’an hari ini, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini berbunyi:
Setiap syiah harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa AL Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAAW, maka dia bukan syiah.

Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap syiah harus meyakini bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa menjadi syiah jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa seorang syiah terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi syiah. Di sini meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi seorang penganut syiah.

Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak pernah akan menjadi syiah.

Saya mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari kesimpulan saya di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan memang saya akan mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas. Saya katakan di atas bahwa yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah saya pribadi, tetapi kita semua, seluruh pembaca makalah ini. Saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, sebelum merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu. anda jangan puas hanya dengan mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda, tapi hendaknya kita melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab syiah. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab syiah imamiyah, dan kami –team hakekat- berusaha untuk menampilkan sumber otentik lengkap dengan nomor jilid dan halaman.

Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap diubahnya Al Qur’an adalah konsekwensi dari mazhab syiah imamiyah. Ulama syiah klasik benar-benar menyadari hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah aksioma dalam mazhab syiah –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong para ulama syiah klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka sadar bahwa menolak hal itu sama dengan menolak mazhab syiah. Mari kita simak nukilan dari ulama klasik syiah.

Pertama-tama, mari kita sadari bahwa riwayat dalam kitab literatur syiah yang menggugat keotentikan Al Qur’an hari ini mutawatir dan sangat banyak, sekali lagi, menurut ulama syiah sendiri. Sebuah kenyataan yang membuat setiap muslim bersedih.

1.Al Mufid –Muhammad bin Nu’man- mengatakan:
Banyak sekali hadits-hadits dari para imam yang membawa petunjuk – a’immatil huda- dari keluarga Nabi Muhammad SAAW bahwa Al Qur’an yang ada bukan lagi asli, juga memuat berita tentang orang-orang zhalim yang menambah dan mengurangi isi Al Qur’an. Lihat Awa’ilul Maqalat hal 91.

2.Abul Hasan Al Amili mengatakan:
Ketahuilah, kebenaran yang disimpulkan dari riwayat mutawatir yang akan dipaparkan kemudian, dan riwayat lain yang tidak kami jelaskan di sini, bahwa Al Qur’an yang ada di tangan kita saat itu, telah mengalami perubahan sepeninggal Rasulullah SAAW. Para penulis Al Qur’an sepeninggal Nabi SAAW telah menghapus banyak ayat dan kata dari ayat Al Qur’an.
Muqaddimah kedua dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar hal 36, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.

Nyata-nyata menuduh para sahabat telah menghapus banyak ayat Al Qur’an. Nampak sekali bahwa yang tertuduh dalam hal ini adalah Usman bin Affan, yang dikenal sebagai pemrakarsa penulisan Al Qur’an, dan penyatuan bacaan Al Qur’an bagi seluruh kaum muslimin. Ini adalah kesimpulan ulama dari riwayat-riwayat yang dianggapnya mutawatir, jadi tidak lagi mengenal adanya “shahih” atau “dhaif”, karena sebuah kesimpulan hanya mewakili person penyimpulnya. Dengan pernyataan ini kita dapat mengambil kesimpulan juga, bahwa Abu Hasan Al Amili tidak beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini. Dia telah kehilangan salah satu rukun iman. [Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un]

3.Ni’matullah Al Jaza’iri
Figur yang satu ini lebih memilih untuk percaya riwayat-riwayat mutawatir menurut versinya daripada Kalam Ilahi yang terhimpun dalam Al Qur’an. Katanya:
Dengan menganggap Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah mutawatir dari wahyu ilahi, [artinya diriwayatkan secara mutawatir berasal dari Nabi yang menerima wahyu dari Allah], dan meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah Al Qur’an yang diturunkan oleh Ruhul Amin [Malaikat Jibril] mengandung konsekwensi penolakan terhadap riwayat yang banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir, yang menyatakan bahwa Al Qur’an telah dirubah, isinya, kalimatnya dan I’rabnya. Padahal ulama mazhab kami telah sepakat bahwa riwayat itu valid adanya dan mereka yakin pada isi riwayat itu. Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2 hal 357.

Kita lihat seluruh ulama syiah sepakat menerima riwayat yang menggugat Al Qur’an, yang menuduh Al Qur’an kaum muslimin saat ini telah dirubah, dan bukan asli lagi. Ini bukan lagi tuduhan, tetapi pernyataan dari ulama syiah sendiri.
keyakinan di atas mengandung sekian banyak konsekwensi, di antaranya, menganggap kaum muslimin yang berpegang pada Al Qur’an yang ada saat ini adalah sesat, karena berpedoman pada kitab suci yang sudah dirubah oleh “tangan-tangan kotor”.

4. Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani
riwayat tak terhitung banyaknya, yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah dirubah, sungguh banyak, melebihi derajat mutawatir. Masyariq Asy Syumus Ad Durriyah, hal 126.

5.Sulthan Muhammad Al Khurasani
Mengatakan dalam kitabnya, Tafsir Bayanus Sa’adah fi Maqamatil Ibadah, cet. Muassasah Al A’lami hal 19

6.Begitu juga Husein Nuri Thabrasi, yang getol menyatakan Al Qur’an telah dirubah, sampai-sampai dia menulis sebuah kitab yang diberi judul Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbabi [pemutus ucapan, pembuktian bahwa kitab Allah telah dirubah]. Kita simak ucapannya dalam kitab di atas hal. 227 :
Hadits yang memuat hal itu [perubahan Al Qur’an] berjumlah lebih dari 2000 hadits, sejumlah ulama besar menyatakan banyaknya riwayat yang menyatakan hal itu, seperti Al Mufid, Al Muhaqqiq Ad Damad, Majlisi dan lainnya.

7. Muhammad Baqir Al Majlisi
ketika membahas hadits riwayat Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah Alaihissalam; Sesungguhnya Al Qur’an yang diturunkan oleh Jibril Alihissalam kepada Muhammad SAAW ada 17000 ayat. Majlisi mengomentari riwayat ini: [riwayat ini] dipercaya, dalam cetakan lain tertulis Hisyam bin Salim di posisi Harun bin Salim. Riwayat ini shahih, seperti sudah diketahui bahwa riwayat ini juga banyak riwayat shahih yang menerangkan dengan jelas bahwa Al Qur’an yang ada saat ini telah dikurangi dan diubah, bagi saya hadits-hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Menolak riwayat ini mengharuskan kita untuk menolak seluruh riwayat [hadits Ahlulbait]. Saya kira hadits yang mengatakan hal ini[perubahan Al Qur’an] tidak kalah banyak dari riwayat hadits yang membahas imamah, bagaimana masalah imamah bisa dibuktikan dengan riwayat? Mir’atul Uqul, jilid 12 hal 525.

Maksudnya, bagaimana masalah imamah bisa didasarkan dari dalil riwayat ahlulbait jika riwayat mengenai perubahan Al Qur’an ditolak? Karena kitab-kitab yang memuat riwayat dari para imam Ahlulbait, yang dijadikan rujukan bagi mazhab imamiyah [tentang imamah dan nash] juga memuat riwayat tentang perubahan AL Qur’an. Maka Syiah tidak dapat mengingkari riwayat tentang perubahan Al Qur’an, karena mengingkari riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak riwayat tentang imamah dan penunjukan para imam, menolak riwayat mengenai imamah berarti menggugurkan mazhab syiah, karena mazhab syiah imamiyah hanya bersandar pada riwayat-riwayat dari ahlulbait mengenai imamah. Berarti konsekwensi dari mengimani prinsip imamah dalam syiah adalah percaya terhadap perubahan Al Qur’an. Ini berarti seluruh umat syiah wajib meyakini perubahan dan pengurangan Al Qur’an, jika masih ingin meyakini imamah.

Perhatikan lagi pernyataan Majlisi, yang menjelaskan bahwa menolak riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak seluruh hadits dan riwayat syiah

Al Qur'an di mata Syi'ah [2].........................................................

Ternyata ada ulama syiah yang belum menelaah riwayat perubahan Al Qur'an, mungkinkah demikian? atau hanya kura-kura dalam perahu..."
Dari makalah bagian pertama, akhirnya kita ketahui bahwa perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma [hal yang tidak bisa lagi ditawar-tawar] dalam mazhab syi'ah imamiyah. Ini merupakan konsekwensi logis dari keterangan di atas barusan. Di antara ulama syi'ah yang “konsekuen” pada konsekuensi logis di atas adalah:

Abu Hasan Al Amili
Dia mengatakan: bagi saya, perubahan Al Qur’an telah demikian jelasnya, karena saya telah mengkonfirmasi dan menelusuri seluruh riwayat, yang mana dapat dikatakan bahwa keyakinan terhadap perubahan Al Qur’an adalah salah satu keyakinan pokok [aksioma] dalam mazhab syi'ah dan salah satu tujuan perebutan khilafah [dari yang berhak].
Lihat Muqaddimah kedua pasal ke empat dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.

Ternyata demikian jelas, bahwa meyakini perubahan Al Qur’an adalah wajib bagi penganut syi'ah, jika masih ingin dianggap sebagai syi'ah. Karena riwayat yang begitu banyaknya –sampai derajat mutawatir bahkan lebih- harus diterima oleh penganut syi'ah yang katanya mengikuti ahlulbait Nabi. Bagaimana dia mau mengikuti Nabi dan tetap berada dalam mazhab syi'ah sementara dia menolak isi riwayat yang jelas mutawatir -bahkan lebih-? Bagaimana bisa menjadi syi'ah dengan menolak isi kitab literaturnya? Menolak meyakini perubahan Al Qur’an berarti menolak mazhab syi'ah.

Begitu juga Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani mengatakan:
Meyakini perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma mazhab mereka [syi'ah]. Masyariq Syumus Ad Durriyah hal. 126

Karena banyaknya riwayat tentang perubahan Al Qur’an, akhirnya ulama syi'ah [yang konsekuen] menyimpulkan bahwa seseorang tidak bisa menjadi syi'ah jika masih meyakini keaslian Al Qur’an yang ada saat ini. Begitu juga ulama syi'ah menyatakan bahwa seluruh syi’ah bersepakat meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah. Di antaranya:

Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani
Setelah menukilkan banyak riwayat yang menunjukkan perubahan Al Qur’an, Adnan mengatakan : riwayat telah begitu banyak tak terhitung jumlahnya, bahkan telah melebihi syarat mutawatir sehingga tidak berguna lagi untuk disampaikan setelah keyakinan tentang perubahan Al Qur’an tersebar luas di kalangan kedua kelompok, bahkan sudah dijadikan aksioma oleh sahabat dan tabi’in, dan ijma’ [kesepakatan] golongan yang benar [syi'ah imamiyah], dan keyakinan itu menjadi sebuah pokok mazhab mereka dan banyak riwayat dari kitab syi'ah yang menyatakan demikian. Lihat Masyariq Syumus Ad Durriyah fi Ahaqqiyyati Mazhabil Akhbariyyah hal 126.

Muhammad bin Nu’man [juga dijuluki dengan Al Mufid] mengatakan:
Penganut Imamiyah sepakat meyakini bahwa banyak orang yang sudah mati akan kembali hidup lagi di dunia sebelum hari kiamat, mereka juga bersepakat meyakini Allah bersifat bada’, imamiyah juga bersepakat meyakini bahwa pemimpin sesat telah menyelewengkan ayat Al Qur’an, mereka juga menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan sunnah Nabi. Lihat Awa’ilul Maqalat hal. 48-49.

Semua ini menguatkan kesimpulan bahwa: seseorang tidak mungkin menjadi syi'ah tanpa meyakini perubahan Al Qur’an.

Mengapa?

Karena mengingkari perubahan Al Qur’an sama dengan mengingkari prinsip Imamah, karena hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an dan Imamah sama-sama banyak dan dimuat di kitab yang sama. Mengingkari prinsip imamah sama saja dengan keluar dari mazhab syi'ah imamiyah.

Di atas kita singgung ulama syi'ah yang konsekuen dengan mazhabnya, yaitu menyatakan bahwa Al Qur’an telah diubah. Jika ada ulama syi'ah yang konsekuen, ada juga ulama syi'ah yang tidak konsekuen karena mereka menolak meyakini perubahan Al Qur’an, padahal mereka juga meyakini imamah. Padahal semestinya mereka juga meyakini perubahan Al Qur’an.

Salah satu ulama yang “tidak konsekuen” adalah Muhammad Ridha Muzaffar. Dalam karyanya yang berjudul Aqaidul Imamiyah hal 59, Muzaffar mengatakan:
Kami meyakini bahwa Al Qur’an adalah wahyu ilahi yang diturunkan dari Allah ta’ala melalui lisan NabiNya yang mulia, memuat keterangan tentang segala sesuatu, Al Qur’an adalah mu’jizat yang kekal sepanjang masa, yang mana manusia tidak mampu meniru balaghah dan kefasihannya, juga tidak mampu meniru isinya yang mengandung hakekat dan ilmu yang tinggi, tidak mengalami perubahan dan penyelewengan.

Di sini Muzaffar menandaskan bahwa syi’ah meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini terjaga dari penyelewengan dan perubahan. Di atas telah kita lihat bahwa syi'ah imamiyah sepakat bahwa Al Qur’an telah diubah. Berarti ada dua kemungkinan, yang pertama Muzaffar memang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang syi'ah.

Dalam pengantar kitabnya itu “Aqaid Al Imamiyah” tertulis sekelumit biografi penulisnya “Muhammad Ridha Muzaffar” kita simak sedikit kutipannya:

.. dia mengikuti seluruh pelajaran yang harus ditempuh di tingkat “sutuh” [tingkatan pendidikan ala hauzah ilmiyah syi'ah di Najaf] syaikh[Muhammad Ridha Muzaffar] unggul dalam seluruh pelajaran tingkatan itu……Dia juga mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh kakaknya Muhammad Hasan dan Muhammad Husein, begitu juga mengikuti pelajaran syaikh Aqa Dhiya’uddin Al Iraqi yagn mengajarkan ushul fiqh, juga mengikuti pelajran syaikh mirza muhammad husein An Na’ini yang mengajarkan fiqh dan ushul fiqh, mengikuti pelajaran syaikh Muhammad Husein Al Asfahani secara privat dan intensif..

Artinya Syaikh Muhammad Ridha Muzaffar bukanlah seorang santri biasa atau syi'ah amatiran[seperti teman-teman syi'ah indonesia yang baru pulang dari iran] yang asal menulis buku. Tak lupa kita nukilkan sedikit dari muqadimah “kata pengantar” bukunya “Aqaidul Imamiyah”:
Saya menuliskan keyakinan-keyakinan ini, saya hanya berniat untuk menuliskan seluruh pengetahuan saya tentang pemahaman Islam ala ahlulbait.

Tetapi pembaca telah melihat sendiri bahwa riwayat mutawatir, bahkan lebih dari mutawatir dari jalan periwayatan syi'ah imamiyah, telah menegaskan bahwa Al Qur’an telah diubah. Sedangkan Muhammad Ridha Muzaffar adalah seorang figur yang jelas tidak memiliki kredibilitas untuk “melawan” riwayat yang banyak itu.

Atau Muzaffar hanya “kura-kura dalam perahu” pura-pura tidak tahu?

Wallahu A’lam, hanya Allah yang tahu apa isi hati Muzaffar, tapi yang jelas pernyataannya dalam kitab itu harus kita teliti lagi validitasnya karena menyelisihi riwayat dari ahlulbait yang sudah jelas-jelas maksum, ditambah pula riwayat itu memiliki banyak jalur sehingga disebut mutawatir.

Masih ada lagi contoh dari ulama syi'ah yang “tidak mau konsekuen” terhadap keyakinan imamah, yaitu tidak mau menyatakan bahwa Al Qur’an yang ada saat telah diubah, seperti ditegaskan oleh riwayat syi'ah yang lebih dari mutawatir. Dialah Muhammad Husein Al Kasyiful Ghita, yang menulis kitab Ashel Syi’ah wa Ushuluha. Dia menyebutkan bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah riwayat yang lemah lagi menyimpang dari kebanyakan riwayat yang valid. Dalam kitabnya itu pada hal 220, terbitan Mu’assasah Imam Ali Alaihissalam, cet. Sitarah dia menyatakan:

Kitab Al Qur’an yang ada di tengah kaum muslimin hari ini adalah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk membuktikan kebesaran allah dan menantang kaum kafir untuk membuat kitab seperti Al Qur’an, juga untuk mengajarkan hukum-hukum agama, menjelaskan yang halal dan yang haram, tidak pernah mengalami pengurangan, penyelewengan atau penambahan, pendapat ini adalah kesepakatan seluruh kaum muslimin. Kelompok mana saja di kalangan kaum muslimin yang beranggapan bahwa ada isi Al Qur’an hari ini telah mengalami penyelewengan dan pengurangan, maka pendapatnya itu adalah keliru, dibantah oleh ayat Al Qur’an: sungguh Kami telah menurunkan peringatan, dan Kami akan menjaganya. Seluruh riwayat dari kitab kami maupun mereka yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah menyimpang dan lemah, dan hadits ahad tidak dapat menjadi dasar ilmu maupun amal.

Ada beberapa hal yang harus dikomentari dari kutipan ini, yang paling mencolok adalah pernyataan bahwa riwayat-riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab syi'ah adalah dho’if dan menyimpang. Padahal pembaca sudah melihat sendiri pernyataan yang dikutip dari ulama-ulama besar syi'ah masa lampau bahwa riwayat perubahan Al Qur’an adalah mutawatir, sama seperti riwayat imamah. akhirnya kita bertanya-tanya, apakah Al Kasyiful Ghita bersikap pura-pura tidak tahu? Atau memang dia benar-benar tidak tahu? Jika kita lihat ajaran taqiyah di kalangan syi'ah, kita semakin yakin bahwa Al Kasyiful Ghita hanya berpura-pura tidak tahu, untuk menghibur kaum muslimin yang “intelek tapi bodoh” dan “bodoh tapi intelek (bergelar sarjana S2 dan S3)” bahwa syi'ah dan sunni tidaklah berbeda, dan tuduhan seperti itu hanyalah tuduhan yang tanpa bukti. Sayangnya para intelek-intelek itu mau saja ditipu. Bahkan ada seorang “intelek” bergelar DOKTOR yang sering muncul di TV, menulis buku membela syi'ah dengan berdasar pada buku Kasyiful Ghita ini.

Mungkin pembaca heran, bagaimana mengingkari kenyataan begitu mudah bagi Kasyiful Ghita, atau jangan-jangan Kasyiful Ghita hanyalah seorang syi'ah “amatiran”?

Bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa riwayat syi'ah yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah mutawatir seperti pernyataan ulama-ulama yang lebih senior?

Ini sungguh membuat malu mazhab syi'ah, karena bagaimana orang seperti itu bisa jadi ulama? Ini pertanyaan yang mungkin timbul dari pembaca yang awam.

Begitu juga katanya ada riwayat tahrif dalam buku sunni, tetapi kita tidak pernah melihat hal itu, kecuali riwayat yang menyatakan adanya nasakh tilawah, sedangkan nasakh tilawah boleh dan terjadi dalam Al Qur’an, dan nasakh tilawah adalah perubahan dari Allah semasa hidup Nabi, bukan perubahan dari tangan-tangan sahabat Nabi, seperti dalam riwayat syi'ah. Apakah kita menyamakan nasakh tilawah dan tahrif/perubahan versi syi'ah? Nyatanya banyak tokoh “intelek” menyamakannya.

Akhirnya orang awam yang tidak tahu terpengaruh, tapi insya Allah setelah membaca makalah ini anda tidak lagi terpengaruh.

Juga orang awam akan bertanya-tanya, apakah setiap pernyataan ulama syi'ah masa kini harus dicek dulu agar kita tahu apakah pernyataan itu sesuai dengan literatur syi'ah atau tidak. Lebih jauh lagi, sebuah pertanyaan "berbahaya" akan muncul;

Kalau begitu, apakah kita layak mempercayai ucapan ulama syi'ah? Siapa yang menjamin bahwa mereka tidak akan mengatakan hal yang berbeda dengan isi kitab literatur syi'ah?[contoh kasus, masalah perubahan Al Qur'an yang sedang kita bahas]
Syi'ah memiliki jurus-jurus untuk menangkal serangan non syi'ah tentang perubahan Al Qur'an.Anda perlu tahu bagaimana menghadapi jurus-jurus itu. Penangkalnya ada di dalam.. silakan baca.

Pada bagian pertama dan kedua telah dikupas mengenai kenyataan yang pahit, yaitu mengingkari adanya perubahan pada Al Qur’an sama dengan mengingkari prinsip imamah, yang berarti mengingkari legalitas mazhab syiah itu sendiri. Karena sudah jelas bahwa mazhab syiah dibangun atas prinsip imamah yang bermakna, meyakini bahwa Ali dan 11 anak cucunya berhak menjadi khalifah serta mereka adalah imam yang menjadi pewaris kenabian. Hal ini biasa juga disebut dengan wilayah. Dalam kitab Al Kafi terdapat sebuah riwayat dari Imam Ja’far As Shadiq yang mengatakan

Islam ditegakkan di atas lima rukun, yaitu shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah, tidak ada yang ditekankan seperti ditekankannya wilayah pada hari ghadir. Al Kafi jilid 2 hal 21 bab Da’a’imul Islam

Kita perhatikan wilayah pada hari ghadir, yaitu pengangkatan Ali menjadi khalifah oleh Nabi pada mata air yang bernama Ghadir Khum, sepulang dari haji wada’. Kisah ini akan kita bahas panjang lebar di lain kesempatan Insya Allah.

Artinya adalah meyakini Ali adalah khalifah setelah Nabi. Hal ini lebih penting daripada shalat, puasa, zakat dan haji, karena diberi penekanan yang lebih pada hari ghadir. Artinya penekanan itu lebih penting daripada penekanan terhadap tauhid. Selama ini yang menjadi penekanan dakwah para Nabi adalah tauhid, seperti yang tertera dalam Al Qur’an, tetapi bagi syiah yang terpenting adalah wilayah atau imamah.

Sebuah konsekuensi yang amat berat, tetapi mengapa kita masih mendengar teman-teman kita yang kebetulan syiah, yang marah ketika diajak bicara masalah perubahan Al Qur’an, da tidak bisa menerima jika tsyiah dituduh meyakini perubahan Al Qur’an. Saya tambahkan, bukan hanya orang awam yang “amatir” [jawa; kroco] yang mengingkari, tetapi ulama-ulama mereka pun mengingkari juga, contohnya seperti yang dibahas di bagian kedua, yaitu Muhammad Ridha Muzhaffar dan Muhammad Husein Al Kasyiful Ghita.

Pertanyaannya, mengapa mereka mengingkari kenyataan yang nampak jelas dalam kitab mereka sendiri? Menurut kami ada dua sebab:

1. Karena memang mereka bertaqiyah. Apa itu taqiyah? Silahkan anda klik di sini untuk lebih jelasnya.

2. Karena mereka benar-benar tidak tahu dan mengingkari hal itu, tetapi mereka tidak sadar akan konsekuensinya yang amat berat, yaitu keluar dari syiah dan kembali beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini.

Perlu anda ketahui bahwa syiah memiliki alergi ketika kita ajak dialog tentang masalah perubahan Al Qur’an. Sebenarnya alergi itu tidak perlu terjadi, karena bagaimana seorang penganut sebuah keyakinan bisa alergi dengan ajaran keyakinan yang dianutnya? Kalo mau alergi tidak usah dianut saja, khan gampang, mengapa dibuat repot? [gitu aja kok repot… seperti kata Gus Pur kalo tidak salah].

Maka anda jangan takut ketika melihat teman anda yang syiah marah, mencak-mencak dan bisa jadi kejang ketika anda membicarakan masalah ini. Itu adalah reaksi yang biasa muncul dan tidak perlu ditakutkan. Walaupun kadar mencak-mencak dan kejangnya kadang berbeda antara yang amatir dan aktor intelektual.

Mengapa mereka alergi? Wajar saja, karena masalah iman pada Al Qur’an menjadi salah satu pemisah antara kaum muslimin dan mereka yang “non muslim”. Artinya mudah bagi seorang muslim awam untuk memahami bahwa siapa yang tidak percaya pada Al Qur’an adalah bukan orang muslim. Dengan begitu orang awam akan mudah menilai bahwa syiah adalah sesat. Juga karena syiah masih ingin dianggap sebagai kaum muslimin. Karena dengan masih dianggap sebagai muslim akan membuat misi dakwah syiah lebih mudah.

TINDAKAN

Jika teman anda yang syi’ah marah ketika diajak dialog masalah perubahan Al Qur’an, maka segera anda diam, biarkan dia menyelesaikan marahnya. Jika marahnya sudah mereda, beritahukan padanya bahwa hal itu tercantum dalam kitab-kitab induk syiah yang dia belum menelaahnya, katakan padanya bahwa orang yang belum tahu tidak layak untuk marah sebelum menelaah. Tetapi jika kemarahan dan emosinya begitu menggelora sampai tangannya meraih asbak atau benda yang ada di dekatnya dan mengarahkannya ke kepala anda, segera ambil benda apa pun untuk melindungi kepala anda, dan sebaiknya anda segera pergi sebelum benda itu benar-benar mendarat di kepala dan menimbulkan masalah bagi anda.

Selain marah dan mencak-mencak ada juga reaksi lain yang muncul saat diajak dialog, yaitu dengan mengajak anda meneruskan dialog. Lalu kira-kira apa jawaban yang akan keluar dari syi’ah?

1. Serangan balik

Artinya teman anda yang syi’ah akan balik menuduh bahwa dalam riwayat sunni juga ada yang menunjukkan Al Qur’an telah dirubah. Jelas mereka berbohong, karena isi hadits-hadits yang dimaksud oleh syiah hanyalah seputar nasakh tilawah atau perbedaan qira’at yang memang pernah ada. Perlu diperhatikan bahwa banyak ulama syi’ah yang mengakui adanya nasakh, seperti Syaikh Thaifah At Thusi misalnya, meski demikian, kita lihat Abul Qasim Al Khu’I mengatakan bahwa nasakh itu tak lain dan tak bukan adalah tahrif itu sendiri. Semua ini adalah upaya untuk menghindar dan berputar-putar tanpa ada jawaban yang jelas. Sehingga kita perhatikan dari teman yang syi’ah, mereka selalu berputar-putar dalam diskusi sehingga membuat kita lelah menghadapinya.

Bisa jadi mereka sengaja berbuat demikian untuk menghindar dari jawaban-jawaban yang membuatnya merasa kalah dalam debat. Kita perhatikan semua syi’ah suka berputar-putar dalam dialog. Saya curiga teman-teman syi’ah telah mengalami mutasi pada gennya sehingga mereka semua menjadi suka berbohong dan berputar-putar dalam dialog. Kita tidak lupa bagaimana taqiyah adalah salah satu ajaran pokok dalam syiah. Kita tidak heran, karena taqiyah adalah sembilan dari sepuluh bagian agama syiah. Sebenarnya cara ini merupakan sebuah aib bagi syiah yang tidak dapat menjawab tuduhan yang memang terbukti, lalu berusaha membuktikan tuduhan yang sama pada lawan.

Hal ini memang sebuah aib, tetapi hanya ini yang mereka punya, yang lebih baik daripada diam tak menjawab dan dipandang kalah dalam berdebat. Mengenai serangan balik dari syiah berkaitan masalah perubahan Al Qur’an akan dibahas lebih detil Insya Allah.

2. Membela diri

mereka membela diri dengan menklaim bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah dhaif, biasanya mereka juga mengatakan tidak ada kitab syi’ah yang seluruh isinya shahih.

Jawabannya ada di makalah ini bagian 1 dan 2. silahkan anda merujuk kembali. Intinya perubahan Al Qur’an sudah dinyatakan oleh para ulama syiah sendiri, dan dinyatakan bahwa riwayat yang menyatakan hal itu lebih dari mutawatir, sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa riwayat tentang perubahan Al Qur’an adalah dhaif. Sebab bagaimana riwayat mutawatir bisa berstatus dhaif? Begitu mutawatirnya sehingga sama dengan riwayat imamah, akhirnya menolak perubahan Al Qur’an memiliki konsekuensi berat, yaitu menolak imamah.

Membela diri dengan mengemukakan masalah penshahihan hadits akan membuat syiah harus membela sekte akhbariyin, yaitu sekte yang mempercayai seluruh riwayat yang ada dalam kitab syiah, maka sekte akhbariyin juga percaya adanya perubahan Al Qur’an dan keyakinan-keyakinan lain, yang tercantum dalam kitab syiah.

Syi’ah yang ada di Indonesia adalah syi’ah ushuli, yang masih percaya pada perlunya seleksi riwayat untuk membedakan yang shahih dan dhaif, tetapi semua itu hanyalah teori tanpa praktek. Salah satu ulama syi’ah yang menganut paham akhbari adalah Abdul Husein Syarafudin Al Musawi, pengarang dua buku penting syiah yaitu Dialog Sunnah Syi’ah yang diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Mizan, dan juga buku yang berjudul Abu Hurairah, yang kami tidak ingat penerbitnya.

Pada bagian 1 dan 2 telah kami nukilkan pernyataan ulama syiah mengenai validitas riwayat perubahan Al Qur’an, jelas ulama syiah di atas lebih valid dan pandai dari teman syiah anda, yang mungkin baru 2 tahun atau 20 tahun “jadi syi’ah”. Lebih jauh lagi, ulama syiah yang dinukil di atas lebih memahami isi riwayat-riwayat syiah daripada teman anda yang syiah, yang barangkali belum bisa membaca dan menulis bahasa arab.

3. takwil dan salah paham

di antara cara mereka adalah dengan mengakui adanya riwayat-riwayat itu, tetapi mereka memiliki pemahaman lain, yaitu katanya riwayat-riwayat itu memiliki makna yang berbeda dengan yang tertulis, maksud ulama syiah dengan pernyataan itu adalah mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada adalah terjaga dari perubahan, penambahan dan pengurangan. Ini sungguh aneh, karena dalam pernyataan ulama kita simak pernyataan yang jelas menunjukkan terjadinya revisi/perubahan dengan menambah atau mengurangi. Sedangkan para ulama syiah di atas tidak akan gegabah membuat pernyataan penting seperti itu jika tidak memiliki dasar yang kuat. Kita lihat dari pernyataan ulama di atas, ada yang mendasarkan pernyataanya tentang perubahan Al Qur’an dari riwayat dalam kitab syi’ah yang berjumlah lebih dari mutawatir, yang menunjukkan adanya perubahan pada Al Qur’an hari ini. Berarti riwayat-riwayat dalam kitab syi’ah benar-benar menunjukkan perubahan AL Qur’an.

Lalu bagaimana dengan “kawan kita” yang mencoba menafsirkan riwayat syi’ah dengan makna lain? Barangkali pembaca bingung mengapa ada “teman kita yang syiah” begitu berani memahami sendiri isi riwayat syi’ah tanpa merujuk pada ulama yang lebih paham. Tetapi kebingungan pembaca akan sirna setelah membaca riwayat dari Imam Abu Ja'far Muhammad Al Baqir, salah seorang dari 12 imam syi’ah:
“ jika seluruh manusia menjadi syiah kami, maka 3/4nya ragu-ragu terhadap kami dan sisanya adalah orang dungu” Rijalul Kisyi hal 179.

4. riwayat seperti itu tidak ada.

Lebih parah lagi, bisa jadi kawan anda itu menyangkal adanya riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab syi’ah. Barangkali anda yang telah membaca bagian 1 dan 2 makalah ini akan bertambah bingung, bagaimana tidak? Kata Ulama besar, riwayat perubahan Al Qur’an jumlahnya lebih dari mutawatir, tapi teman kita malah bilang riwayat seperti itu g ada. Lalu mana yang benar?

Katakan saja pada kawan anda, barangkali anda belum pernah menelaah kitab syi’ah karena anda tidak bisa berbahasa arab. Atau anda adalah korban penipuan dari ustad syiah anda yang sengaja menipu agar anda tetap masuk syi’ah. Karena jika anda tahu bahwa syi’ah meyakini perubahan Al Qur’an, ustad anda takut kalo anda kembali sunni.

Mungkin anda tidak heran ketika yang menyangkal adalah orang awam yang polos, tetapi jika yang menyangkal adalah intelektual, maka anda perlu merasa heran. Pada bagian 2 telah kami paparkan contoh intelektual syi’ah yang menyangkal adanya riwayat perubahan Al Qur’an pada kitab syi’ah. Apakah ada lagi intelektual syi'ah yang menyangkal?

Popular Posts