PASUKAN PANJI HITAM THE BLACK BANNER

Wednesday, November 30, 2016

Bani TAMIM adalah “LELAKI DARI TIMUR” Pemegang Panji-Panji AL MAHDI ?


Dari Abdullah bin Al-Haris ra katanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Akan ada orang-orang yang keluar dari sebelah Timur, lalu mereka mempersiapkan segala urusan untuk Al-Mahdi, yakni pemerintahannya.” (HR. Ibnu Majah & At-Tabrani)
Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa salam telah mengambil tangan Ali dan bersabda : “Akan keluar dari sulbi pemuda ini (Ali) yang memenuhi dunia dengan keadilan (Imam Mahdi). Bilamana kamu melihat yang demikian itu, maka wajib kamu mencari Putera dari Bani Tamim (dari keturunan Abu Bakar), dia datang dari sebelah Timur dan dia adalah pemegang panji-panji Al Mahdi” (HR. Tabrani dalam Al Ausat Dari kitab Al Hawi lil Fatawa oleh Imam Sayuti)

Pemuda Bani Tamim Update


Banyak hadis menerangkan siapa Pemuda Bani Tamim ini. Kerana itulah dia menjadi sebuah nama yang popular kepada mereka yang menkaji perihal kronologi kiamat.

Antara tanda fizikalnya ialah-

-Sederhana tubuhnya
-Janggut nipis
-Tidak tinggi tidak rendah
-Sawo matang
-Bergigi sulah
-Dan lain-lain

Dia juga di gelar al-mansur dan yang paling terkenal ialah Syuib bin Salleh.

Setelah kita kaji dua watak sebelum ini iaitu Pemuda Bani Hasyim di Malaysia, aris al-Haasth di Indonesia, maka Pemuda Bani Tamim di mana?

Saturday, November 19, 2016

Bangsa Mongol , Sejarah panjang Perang Perlawanan (Bani Qanthura)


mongol

Bangsa Mongol , Sejarah panjang Perang Perlawanan  (Bani Qanthura)

Oleh: Wiji Hartono

( Pemerhati Sejarah, Alumnus Ilmu Sejarah FIB Universitas Indonesia )

Hadits dibawah ini merupakan ramalan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah terjadi, yaitu peristiwa jatuhnya Baghdad ke pasukan Bangsa Mongol pada 1258 M.
kj
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ فَارِسٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ جُمْهَانَ حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي بِغَائِطٍ يُسَمُّونَهُ الْبَصْرَةَ عِنْدَ نَهْرٍ يُقَالُ لَهُ دِجْلَةُ يَكُونُ عَلَيْهِ جِسْرٌ يَكْثُرُ أَهْلُهَا وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُهَاجِرِينَ قَالَ ابْنُ يَحْيَى قَالَ أَبُو مَعْمَرٍ وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُسْلِمِينَ فَإِذَا كَانَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ جَاءَ بَنُو قَنْطُورَاءَ عِرَاضُ الْوُجُوهِ صِغَارُ الْأَعْيُنِ حَتَّى يَنْزِلُوا عَلَى شَطِّ النَّهْرِ فَيَتَفَرَّقُ أَهْلُهَا ثَلَاثَ فِرَقٍ فِرْقَةٌ يَأْخُذُونَ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَالْبَرِّيَّةِ وَهَلَكُوا وَفِرْقَةٌ يَأْخُذُونَ لِأَنْفُسِهِمْ وَكَفَرُوا وَفِرْقَةٌ يَجْعَلُونَ ذَرَارِيَّهُمْ خَلْفَ ظُهُورِهِمْ وَيُقَاتِلُونَهُمْ وَهُمْ الشُّهَدَاءُ
“Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya bin Faris dia berkata: telah menceritakan kepada kami, Abdu Ash Shamad bin Abdul Warits dia berkata: telah menceritakan kepadaku, Bapakku dia berkata: telah menceritakan kepada kami, Sa’id bin Jumhan dia berkata: telah menceritakan kepada kami, Muslim bin Abu Bakrah dia berkata: Aku mendengar Bapakku menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Beberapa orang dari umatku singgah di suatu tempat yang luas, mereka menamakannya Bashrah. Yakni di sisi sungai yang bernama Dijlah, sungai itu mempunyai jembatan. Tempat itu penduduknya sangat banyak, dan mayoritas berasal dari orang-orang yang hijrah. (Ibnu Ishaq berkata: Abu Ma’mar menyebutkan bahwa penduduk tempat itu berasal dari penjuru kaum muslimin). Di akhir zaman nanti akan datang suatu kaum yang bernama Qanthura, wajah mereka lebar dan matanya sipit, hingga kaum itu sampai ke daerah tepian sungai lalu para penduduknya pecah menjadi tiga kelompok; satu kelompok pergi mengikuti ekor sapi dan binatang ternak (pergi mengungsi) hingga mereka hancur, satu kelompok mengambil untuk keamanan mereka (mengajukan jaminan keamanan dari bani Qanthura) hingga akhirnya menjadi kafir, dan satu kelompok melindungi anak dan istri mereka dan berperang melawan musuh (bani Qanthura) hingga mereka mati sebagai syuhada.”
[HR. Abu Daud no. 3752. Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini hasan dan sanadnya baik dalam Shahih Sunan Abu Daud, M. Nashiruddin al-Albani, jilid 3, hadits No. 4306, terbitan Pustaka Azzam]
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad penduduk Bashrah (bashriyyiin) dalam Bab Hadits Abu Bakrah Nafi’ bin Al Harits bin Kaladah Radliyallahu ta’ala ‘anhu, dengan tambahan kalimat:
Allah Tabaraka wa Ta’ala memenangkan dari mereka yang masih tersisa.” [HR. Ahmad no. 19518]
Salah satu perawi hadits ini, yaitu al-‘Awwam bin Hawsyab bin Yazid berkata: “Bani Qanthura adalah orang-orang Turki.”

Bangsa Mongol atau Bani Qanthura

Kata Bashrah dalam hadits tersebut mengacu pada gerbang Bashrah di kota Baghdad yang berada di sisi sungai Dijlah (Tigris). Sedangkan kota yang bernama Bashrah tidak berada di sisi sungai Dijlah, tetapi di sisi sungai Shatt al-Arab (Arvand Rud) di Irak selatan. Kota Bashrah bermula dari perkemahan pasukan Khulafaur Rasyidin yang dipimpin Utbah bin Ghazwan. Perkemahan tersebut didirikan pada 636 sebagai basis untuk menyerang Kekaisaran Sassanid.
Baghdad (Madinat al-Salam) dibangun pada 762 oleh Khalifah al-Mansur, serta dirancang sebagai ibukota Kekhalifahan Abbasiyah, sehingga penduduknya sangat banyak dan merupakan pendatang (orang-orang yang hijrah). Bagian inti Baghdad dikelilingi tembok dan memiliki empat gerbang yang bernama Kufah, Bashrah, Khurasan, dan Syam. Nama-nama itu menunjukkan arah hadap gerbang terhadap empat kota tersebut. Juga terdapat sedikitnya tiga jembatan yang melintasi sungai Tigris.

Peta Baghdad abad ke 8 - 10 M ( https://en.wikipedia.org)
Peta Baghdad abad ke 8 – 10 M – Bangsa Mongol ( en.wikipedia.org) 

Al-‘Awwam bin Hawsyab mengatakan bahwa Bani Qanthura adalah orang-orang Turki dikarenakan kesamaan ciri fisik dan daerah asal mereka. Pada 1844, Matthias Castrén, seorang ahli Filologi dari Finlandia menyatakan bahwa rumpun bahasa Turki, Mongol, dan Tungus memiliki kesamaan sebagai bagian dari keluarga Bahasa Altaic. Namun pendapat ini belum diterima secara luas di kalangan ahli bahasa.
Qanthura merupakan sebutan untuk Khan Tatar. Catatan tertua yang menyebut nama Tatar adalah tugu peringatan Kul Tigin yang dibangun pada 732. Kul Tigin adalah panglima Göktürks yang berhasil memperluas wilayah Kekhanan Turki. Setelah suku Göktürks mendirikan Kekhanan Turki (552 – 744 M), beberapa suku yang dikalahkan kemudian dipimpin oleh Khan Tatar melakukan migrasi ke arah timur, dan menjadi bagian dari orang-orang Shiwei.
Dalam Tang Huiyao (Kelembagaan Sejarah Dinasti Tang) yang disusun Wang Pu pada 961, disebutkan keberadaan Mengwu Shiwei yang merupakan cikal bakal Bangsa Mongol. Di masa Dinasti Liao, Mengwu disebut Menggu. Pengucapan bahasa Korea atas kata Mengwu adalah Mong-ol. Mongolia juga disebut Menggu dalam bahasa Tiongkok. Di antara orang Shiwei juga membentuk serikat suku Tatar. Pada abad ke-12 M, terdapat lima serikat suku Bangsa Mongol utama di Mongolia, yaitu Khamag, Tatar, Khereid, Merkit, dan Naiman.
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menceritakan bahwa jatuhnya Baghdad tidak lepas dari pengkhianatan menteri Ibnu al-Alqami yang menganut Syiah. Ibnu al-Alqami diam-diam mengurangi jumlah pasukan serta mengirim surat kepada Mongol untuk memberitahukan kelemahan Baghdad dan kondisi pasukan Abbasiyah. Ia juga meyakinkan khalifah al-Musta’shim bahwa Bangsa Mongol tidak akan menyerang Baghdad, dan akan puas dengan pemberian hadiah. Sehingga al-Musta’shim tidak mengumpulkan pasukan dari wilayah-wilayah Abbasiyah untuk membantu pasukan di Baghdad.
Sampai datanglah pasukan Mongol dipimpin Hulagu Khan dengan kekuatan sekitar 200.000 orang yang langsung mengepung Baghdad. Al-Musta’shim akhirnya memutuskan untuk menghadapi mereka, namun 20.000 orang pasukannya tidak mampu mengalahkan Mongol. Al-Musta’shim dan ratusan ribu penduduk Baghdad dibunuh. Mongol juga mengejar penduduk yang mengungsi dan membunuh mereka. Ibnu al-Alqami serta pengikutnya mendapat jaminan keamanan dari Bangsa Mongol.
Bangsa Mongol akhirnya berhasil dikalahkan Kesultanan Mamluk dalam pertempuran Ain Jalut (1260) dekat kota Nazareth, Palestina. Melihat pasukan Hulagu ternyata dapat dikalahkan, Berke Khan pun turut menyerang Hulagu pada 1262. Berke adalah cucu Jenghis Khan yang memeluk Islam. Ia memimpin Golden Horde (Ulus Juchi) dan menjalin persekutuan dengan Mamluk untuk menyerang Hulagu sebagai pembalasan atas jatuhnya Baghdad. Hulagu mengalami kekalahan saat menyerang wilayah Berke di utara Kaukasus pada 1263.

Sejarah Bangsa Mongol

Kata Mongol sebagai sebuah bangsa pertama kali disebut dalam catatan sejarah Dinasti Tang, mengacu pada suku Mengwu di antara orang Shiwei. Sebutan orang Shiwei meliputi suku-suku berbahasa Mongol dan Tungus yang menghuni wilayah Asia timur laut, yaitu di Mongolia Timur, sebelah utara Manchuria dan Korea, serta dekat pesisir Laut Okhotsk.
Pada abad ke-10 M, suku Khitan mendirikan Dinasti Liao (907 – 1125) yang menguasai wilayah orang Shiwei, termasuk Mongolia, Manchuria, Korea Utara, dan Tiongkok Utara. Pada abad ke-12 M, suku Tungus Jurchen mendirikan Dinasti Jin (1115 – 1234) dan mengambil alih kekuasaan Dinasti Liao. Sebagian orang Khitan kemudian melakukan migrasi dan mendirikan kerajaan Qara Khitai di Asia Tengah.
Pada 1206, Temujin (1162 – 1227) berhasil menyatukan suku-suku di dataran Mongolia, mendirikan Kekaisaran Bangsa Mongol, dan menggunakan gelar Jenghis Khan. Ia kemudian menghimpun suku-suku Turki dan suku Bangsa Mongol di Asia Tengah, seperti Uyghur, Kyrgyz, Buryats, Yakuts, Oirats, dan lainnya. Jenghis Khan lalu menyerang kerajaan suku Tangut (Xī Xià), Dinasti Jin, dan menaklukkan kerajaan Qara Khitai.

ilustrasi pasukan Mongol (www.china-mike.com)
ilustrasi pasukan Bangsa Mongol (www.china-mike.com)

Pada 1219, pasukan Mongol menyerang Dinasti Khwarazmia. Sultan Muhammad selamat namun wilayah Khwarazmia jatuh ke tangan Bangsa Mongol. Jenghis Khan kemudian kembali ke timur untuk menghadapi pemberontakan kerajaan Xī Xià dan Dinasti Jin. Sebagian pasukan Mongol melanjutkan serangan ke barat, diantaranya adalah terhadap kerajaan Georgia di Kaukasus serta persekutuan bangsa Slavic dengan suku Turki Cuman di sungai Kalka (Ukraina).
Setelah kematian Jenghis Khan, Bangsa Mongol dipimpin Ogedei Khan (1186 – 1241). Pasukan Mongol melanjutkan serangannya, antara lain terhadap Korea, Dinasti Song di Tiongkok Selatan, Polandia, Hungaria, hingga semenanjung Balkan. Serangan ke Eropa Tengah dihentikan akibat datangnya berita kematian Ogedei di Mongolia. Sedangkan penaklukkan di India berhasil digagalkan oleh Kesultanan Delhi.
Di masa kepemimpinan Möngke Khan (1209 – 1259), Baghdad jatuh ke tangan Mongol. Pasca kematian Mongke, terjadi serangkaian perang saudara di dalam Kekaisaran Mongol, seperti perang Toluid dan perang antara Berke dengan Hulagu. Sehingga Mongol terpecah menjadi 4 kerajaan, yaitu Dinasti Yuan, Kekhanan Chagatai, Golden Horde (Ulus Juchi), dan Ilkhanate.

Bangsa Mongol Yang Memeluk Islam

Di bawah kekuasaan bangsa Mongol, umat Islam mengalami penindasan. Jenghis Khan melarang beberapa penerapan hukum Islam, seperti khitan dan kurban. Kebijakan ini dilanjutkan oleh Kekhanan Chagatai dan Dinasti Yuan. Ilkhanate bahkan memiliki hubungan yang dekat dengan Kristen. Ibu serta istri Hulagu adalah penganut Kristen Nestorian (Gereja Timur). Hulagu juga mengirim surat kepada raja Perancis Louis IX dan Paus Urban IV untuk bekerjasama merebut Yerusalem dari Mamluk.
Namun lambat laun, orang-orang bangsa Mongol mulai memeluk Islam. Berke Khan (wafat 1266) adalah pemimpin Mongol yang pertama kali memeluk Islam. Persekutuan Mamluk dengan Golden Horde juga berperan dalam penyebaran Islam di kalangan Bangsa Mongol. Sultan Baybars mengundang perwakilan Golden Horde ke Mesir sehingga banyak di antara mereka yang kemudian memeluk Islam. Di masa kepemimpinan Öz Beg Khan (1282 – 1341), Islam dijadikan agama resmi kerajaan Golden Horde.

Perpecahan Kekaisaran Mongol (defence.pk)
Perpecahan Kekaisaran Bangsa Mongol (defence.pk)

Mubarak Shah (wafat 1276) adalah pemimpin Kekhanan Chagatai yang pertama kali memeluk Islam. Namun penyebaran Islam secara terbuka baru dilakukan di masa kepemimpinan Ṭarmashirin Khan (bertahta 1331 – 1334). Akibatnya ia digulingkan, dan penggantinya kembali melakukan penindasan terhadap umat Islam. Baru di masa kepemimpinan Ali-Sultan pada 1342, Islam kembali disebarkan di Kekhanan Chagatai.
Takudar (bertahta 1282 – 1284) adalah pemimpin Ilkhanate yang pertama kali memeluk Islam. Ia terlahir sebagai seorang Kristen Nestorian dengan nama Nikola Takudar. Setelah memeluk Islam, ia mengganti nama menjadi Ahmad Takudar. Ia juga mengirim surat perdamaian kepada Mamluk. Takudar kemudian digulingkan, dan penindasan kembali dilakukan terhadap umat Islam. Namun di masa kepemimpinan Ghazan (1271 – 1304), Islam kembali disebarkan di Ilkhanate.
Dari empat kerajaan pecahan Kekaisaran Bangsa Mongol, hanya Dinasti Yuan yang tidak memeluk Islam. Namun terdapat beberapa bangsawan Yuan yang menganut Islam. Di antaranya adalah Ananda (wafat 1307), gubernur Gansu yang kemudian dipanggil ke pengadilan agar kembali menganut Budha. Ia pun menolak sehingga dipenjarakan. Ananda kemudian dibebaskan karena timbul kekhawatiran akan terjadinya pemberontakan.
Kerajaan-kerajaan Bangsa Mongol yang memeluk Islam, banyak menggunakan budaya Persia dan Turki. Seperti Golden Horde yang menggunakan bahasa dan budaya Turki. Keturunan mereka saat ini, yaitu suku Tatar di Rusia, dimasukkan dalam rumpun bangsa Turki. Sedangkan Kesultanan Timurid (1370 – 1507) yang menguasai Iran, Kaukasus, Mesopotamia, sebagian Asia Tengah dan Pakistan, serta Kesultanan Mughal (1526 – 1857) yang menguasai sebagian besar anak benua India, keduanya menggunakan bahasa Persia dan dipimpin oleh orang-orang keturunan Turki-Mongol.

Siapa Bani Qanthura & Mengapa Mereka Diperangi?

“Akan ada segolongan kaum dari umatku yang menetap di sebuah daerah yang mereka namakan Bashrah, di sisi sebuah sungai yang disebut Dijlah (Dajlah), dan di atas sungai itu ada sebuah jembatan. Penduduk daerah itu akan bertambah banyak, dan ia akan menjadi salah satu negeri dari negeri-negeri orang-orang yang berhijrah. [Perawi Muhammad ibnu Yahya berkata: Abu Ma’mar meriwayatkan dengan mengatakan: negeri-negeri kaum muslimin].

Popular Posts