PASUKAN PANJI HITAM THE BLACK BANNER

Tuesday, April 3, 2012

88 Tahun Tanpa Khilafah : From Imarah To Khilafah

2012 tahun ini genap 88 tahun kaum Muslimin hidup tanpa naungan Khilafah. Musthafa Kamal Attaturk, antek barat keturunan yahudi yang lahir di Salanik atau Salonika (1880 M/1296 H) ini pada tanggal 3 Maret 1924 melalui sidang Dewan Perwakilan Nasional, memecat Khalifah, membubarkan sistem Khilafah, dan menghapus sistem pemerintahan Islam yang telah berjalan ribuan tahun tersebut dari Khilafah Ustmaniyyah di Turki.
Sejak peristiwa 3 Maret 1924, kaum Muslimin hidup tanpa naungan Khilafah, terpecah belah menjadi sekitar 60-an negara nasionalis yang tidak terikat satu sama lain dengan ikatan yang shahih (aqidah Islam), dihinakan, wilayahnya diduduki penjajah, darahnya ditumpahkan, kehormatannya dilecehkan, dan agamanya dinistakan.
Kini, setelah 88 tahun berlalu, gaung kebangkitan Islam yang sejak lama diperjuangkan mulai menampakkan hasilnya. Kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia melihat secercah harapan kembalinya kejayaan dan keberkahan hidup di bawah naungan syariat Islam di bawah sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyyah.
Nubuwwah dari Rasulullah SAW., yang memberitakan akan berakhirnya masa kepemimpinan para diktaktor yang kejam dan bengis dan menjadi awal kemunculan sistem Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian mulai terlihat tanda-tandanya.
Keruntuhan rezim diktaktor Tunisia, disusul Mesir, Libya, dan kini Suriah menjadi tanda dan bukti benarnya berita kenabian Rasulullah SAW. Sementara itu, fenomena kemunculan negara-negara Islam atau yang lebih dikenal dengan Imarah Islam, seperti Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam Kaukasus, Imarah Islam Somalia, dan Daulah Islam Iraq menjadi penanda dan bukti yang menguatkan bahwa masa kedatangan Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian sudah semakin dekat. Karena seluruh Imarah Islam yang ada bercita-cita mewujudkan Khilafah Islamiyah mengikuti metode kenabian. Insya Allah!       
Bagaimana Khilafah Islam Diruntuhkan ?
Syekh Abdullah Azzam rahimahullah dalam bukunya ‘Al Manarah Al Mafqudah’ (Pelita Yang Hilang) menjelaskan penyebab runtuhnya kekhilafahan. Menurut beliau, orang-orang Eropa berpendapat bahwa cara yang paling mudah untuk mematikan Islam adalah melayangkan pukulan mematikan memlalui tangan putra-putranya yang mengaku sebagai kaum Muslimin.
Musthafa Kamal Attaturk datang mewujudkan impian yang belum pernah terbayangkan sebelumnya oleh orang-orang Eropa yakni memecat Khalifah, membubarkan sistem Khilafah, dan menghapus sistem pemerintahan Islam yang telah berjalan ribuan tahun dari Khilafah Ustmaniyyah di Turki.
Menurut Syekh Abdullah Azzam dalam ‘Al Manarah Al Mafqudah’ buku beliau yang diterbitkan di Shada, perbatasan Afghanistan pada 26 Juni 1987 tersebut, Musthafa Kamal Attaturk lahir di kota Salonika atau kota Yahudi, yang berpenduduk 140.000 jiwa, dimana 80.000 diantaranya adalah orang-orang Yahudi Espana dan 20.000 lagi adalah orang-orang Yahudi Aldunama, yakni kaum Yahudi yang berpura-pura masuk Islam (dokumen duta Inggris, Lother, tanggal 29-5-1910), diterbitkan oleh Majalah Al-Mujtama’ no. 425-529, 1978.)
Musthafa Kamal Attaturk adalah agen dan antek orang-orang kafir Eropa, terutama Inggris. Musthafa mengawali pengkhianatannya ketika berada di Palestina, dengan mengadakan perjanjian dengan Allenby, panglima pasukan Inggris. Dari pengkhianatan itu disepakati Musthafa menarik pasukannya dari Palestina dan memberi kesempatan kepada Allenby untuk masuk bersama pasukannya dalam keadaan tenang dan damai. Pasukan Allenby akhirnya memukul mundur pasukan ke IV Turki dengan pukulan yang mematikan. Akibat dari pengkhianatan awal Musthafa, kekuatan Turki hancur untuk selama-lamanya dimana hasil pertempuran sangat memilukan, jumlah tawanan mendekati seratus ribu tentara, di luar jumlah mereka yang mati oleh peluru orang-orang Druze dan Armenis (Ar Rajulu Ash-Shanamu)
.
Syekh Abdullah Azzam membeberkan dalam ‘Pelita yang Hilang’ bukti-bukti pengkhianatan Musthafa Kamal Attaturk dan kesepakatannya dengan Inggris.
1. Mundurnya Musthafa Kamal dari posisi strategis yang terlindung kuat, yakni di timur Nabulus, yang dilakukan persis di malam masuknya pasukan Allenby, 19 September 1917, dengan mendadak dan dalam waktu yang singkat.Dhabith Tarki Sabiq, mantan jenderal Turki, penulis buku Ar Rajulu Ash-Shanamu, Kamal Attaturk (Manusia Berhala, Kamal   Attaturk), menyatakan : “Di sini terjadi kesepakatan antara Mustafa Kamal dengan panglima pasukan Inggris, Jenderal Allenby, secara rahasia. Isi kesepakatan tersebut ialah Musthafa Kamal akan menarik mundur pasukannya secara mendadak, sehingga tentara Turki tidak mampu melakukan pertahanan. Tentu saja hal itu menyebabkan mereka jatuh ke tangan musuh.
2. Inggris mengadakan hubungan dengan Musthafa Kamal pada waktu dia masih menjadi panglima pasukan di Palestina. Mereka membujuk Musthafa Kamal untuk mengadakan pemberontakan terhadap Sultan dan Inggris berjanji untuk membantu rencana tersebut.
3. Setelah Allenby merebut kemenangan, maka ia datang ke Istambul. Dia meminta Daulah Turki yang kalah untuk mengangkat Musthafa Kamal sebagai panglima pasukan ke IV dekat wilayah Maushil (kota di Iraq), dimana pengaruh Inggris dan daerah minyak terletak. Tujuannya supaya Musthafa Kamal dapat melindungi berbagai kepentingan Inggris dan mengamankan mereka di sana.
4. Musthafa Kamal, setelah kekalahan besar yang diderita Turki dan sesudah kembali ke Turki, mempunyai hubungan rahasia dengan pastor yang dikenal dengan nama Frid, seorang kapala intelejen Inggris di Turki.
5. Sandiwara kemenangan yang gemilang di Anatolie, khususnya di wilayah Sicoria, Azmir, dan Avion yang menjadikan Musthafa Kamal melambung ketenarannya bagaikan sebuah lagenda. Maka sempurnalah sandiwara tersebut dengan penampilan yang menghipnotis dan merampas perasaan hati itu. Inggris telah menekan Khalifah sedemikian rupa sehingga dia nampak lemah dan tak berdaya. Sementara di sisi lain mereka berpura-pura lemah menghadapi Musthafa Kamal agar nampak bahwa dia adalah pahlawan satu-satunya di Turki.
Akhirnya pada tanggal 3 Maret 1924, Musthafa Kamal, sang agen dan antek Inggris turunan Yahudi tersebut mengusulkan rencana untuk menghapus, membubarkan khilafah, memisahkan antara agama dan negara, serta mengganti Mahkamah Syariah dan Undang-Undang Syariah dengan Mahkamah Modern (Thaghut) dan Undang-Undang Modern (Thaghut).
Syekh Abdullah Azzam mengomentari tindakan keji Musthafa Kamal tersebut: “Sungguh Musthafa Kamal telah mencabut bangunan yang tinggi dari pondasinya. Bangunan yang selama lima abad menjadi menara petunjuk bagi kaum Muslimin, menjadi pelita yang menerangi kaum Muslimin di bumi Turki.”
Syekh Abdul Qadim Zallum, dalam bukunya “How The Khilafah Destroyed” (Kaifa Hudimat al-Khilafah) menceritakan detik-detik dimana Khilafah Islam terakhir di Turki diruntuhkan oleh antek dan agen Inggris, Musthafa Kamal Attatruk.
“Pada pagi hari tanggal 3 Maret 1924, diumumkan bahwa Majelis Nasional telah menyetujui penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Pada malamnya, Musthafa Kamal mengirimkan perintah kepada gubernur Istambul yang menetapkan bahwa Khalifah Abdul Majid harus meninggalkan Turki sebelum fajar hari berikutnya. Pada tengah malam, gubernur bersama satu pasukan dari kesatuan polisi dan militer mendatangi istana Khalifah. Khalifah dipaksa masuk ke dalam mobil yang kemudian membawanya melintasi perbatasan menuju Swiss. Setelah ia dibekali satu kopor berisi beberapa potong pakaian dan sejumlah uang. Dua hari kemudian, Musthafa mengumpulkan seluruh pangeran dan putri Sultan, kemudian mendeportasinya ke luar negeri. Seluruh peran agama dihapuskan dan waqaf kaum Muslimin menjadi milik negara. Sekolah-sekolah agama diubah menjadi sekolah umum di bawah pengawasan kementerian pendidikan. Demikianlah bagaimana caranya Khilafah diruntuhkan. Khilafah benar-benar runtuh, dan ikut runtuh pula Islam dalam kapasitasnya sebagai konstitusi negara, sebagai sumber perundang-undangan umat, serta sebagai pedoman hidup. Semuanya itu adalah perbuatan Inggris melalui kaki tangan dan agen mereka, si pengkhianat Musthafa Kamal Pasha.”
Lihat apa yang diucapkan Musthafa Kamal dalam pidatonya yang disampaikan pada anggota dewan:
“Dengan harga apa yang harus dibayar untuk menjaga Republik yang terancam ini dan menjadikannya berdiri kokoh di atas prinsip ilmiah yang kuat? Jawabannya Khalifah dan semua keturunan keluarga Utsman harus pergi (dari Turki), pengadilan agama yang kuno dan undang-undangnya harus diganti dengan pengadilan dan undang-undang modern, sekolah-sekolah kaum agamawan harus disterilkan tempatnya untuk dijadikan sekolah-sekolah negeri yang non agama.”
Dan Umat Islam pun Tercerai Berai
Pasca diruntuhkannya Khilafah Islam yang terakhir di Turki, umat Islam tercerai berai, bagai anak ayam kehilangan induknya. Kaum Muslimin terpecah belah menjadi sekitar 60-an negara nasionalis yang tidak terikat satu sama lain dengan ikatan yang shahih (aqidah Islam).
Setelah Khilafah Islam diruntuhkan, kaum Muslimin berpecah belah dan menyebar pada jalan yang berbeda-beda laksana domba di malam hujan, dimana kemudian kawanan serigala menerkam kaum Muslimin yang tercerai berai tersebut. Semua musuh mencabut senjatanya dan menghunuskan pedangnya untuk menyembelih siapapun dan dengan cara bagaimanapun yang mereka sukai. Khilafah Islam, sang pelindung umat sudah tiada lagi.
Syekh mujahid, Usamah bin Ladin rahimahullah dalam “Taujih Manhajiyah 2” menggambarkan derita umat akibat tercerai berai dan tidak memiliki pemimpin.
“ Pada saat darah orang-orang Islam mengalir dan ditumpahkan, di Palestina, Chechnya, Philipina, Kashmir dan Sudan, dan anak-anak kita mati lantaran embargo Amerika di Irak. Dan ketika luka-luka kita belum sembuh, sejak serangan-serangan  salib terhadap dunia Islam pada kurun yang lalu, dan yang merupakan hasil dari kesepakatan Saix-Piccot antara Inggris dan Prancis, yang menyebabkan dunia Islam terbagi-bagi menjadi potongan-potongan, sedangkan para kakitangan salib masih berkuasa di dalamnya sampai hari ini, tiba-tiba keadaan yang serupa menghadang kita dengan kesepakatan Saix-Piccot, yaitu kesepakatan Bush-Blair, akan tetapi kesepakatan itu di bawah bendera yang sama, dan tujuannya juga sama. Benderanya adalah bendera salib, dan tujuannya adalah merampas dan menghancurkan umat Nabi kita shollallohu ‘alai wa sallam yang dicintai.
Sesungguhnya kesepakatan Bush-Blair mengaku ingin menghancurkan teroris, namun tidak samar lagi, meskipun bagi orang awam sekalipun, bahwa kesepakatan itu bertujuan untuk menghancurkan Islam, namun demikian para penguasa negara-negara kawasan timur tengah tetap saja menyatakan dukungan mereka, melalui berbagai ceramah dan tulisan, terhadap terhadap  Bush di dalam memerangi teroris, yaitu memerangi Islam dan kaum muslimin, dalam sebuah pengkhianatan yang jelas terhadap Islam dan umatnya, dengan dukungan restu dari para ulama’ pemerintah dan para menterinya.”
Kesepakatan atau Perjanjian Saix-Piccot adalah kesepakatan rahasia yang berlangsung pada tahun 1334 H ketika perang dunia pertama antara Inggris dan Prancis, atas persetujuan Rusia untuk memecah-belah Daulah ‘Utsmaniyah dan membagi daerah-daerah yang tunduk di bawah kekuasaan ‘Utsmaniyah --- yaitu Suriah, Irak, Lebanon dan Palestina --- ke daerah-daerah yang tunduk kepada kekuasaan Prancis, sedangkan yang lainnya tunduk kepada kekuasaan Inggris. Kesepakatan tersebut dinamakan dengan nama tersebut karena dinisbatkan kepada pelakunya yaitu Marlk Saix orang Inggris dan George Piccot, orang Perancis.
Syekh Usamah rahimahullah melanjutkan :
“Dan sesungguhnya diantara tujuan terpenting dari serangan salibis baru ini adalah mempersiapkan kondisi negara-negara di wilayah timur tengah, setelah dilakukan pembagian, untuk mendirikan negara Israel Raya, yang mencakup sebagian besar Irak dan Mesir melewati Suria, Lebanon, Yordan, seluruh daerah Palestina dan sebagian besar dari negeri haromain (dua tanah suci).
Lalu, bagaimana caranya agar umat Islam yang tercerai berai tersebut bisa bersatu kembali di bawah naungan Khilafah Islamiyyah? Bagaimana pula caranya menahan keganasan orang-orang kafir yang membantai kaum Muslimin ?
Syekh mujahid, Usamah bin Ladin menjawabnya:
“Maka jalan untuk menahan kekuatan orang-orang kafir adalah jihad fi sabilillah, sebagaimana firman Alloh SWT:
" Maka berperanglah kamu pada jalan Alloh, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu'min (untuk berperang). Mudah-mudahan Alloh menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Alloh amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya)." (An Nisa’: 84)
Sesungguhnya umat Islam pada hari ini, atas karunia Alloh SWT, mempunyai kekuatan yang sangat besar yang cukup untuk menyelamatkan Palestina dan menyelamatkan negeri-negeri umat Islam yang lain. Akan tetapi kekuatan ini terbelenggu, maka kita harus berusaha untuk melepaskannya. Selain itu, sebenarnya umat ini telah mendapat janji kemenangan, sehingga jika kemenangan itu tertunda maka hal itu disebabkan oleh dosa-dosa kita dan berpangkutangannya kita dari membela Alloh SWT. Alloh SWT berfirman:
"… jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (Muhammad: 7)
Bahkan umat ini juga dijanjikan kemenangan atas orang-orang Yahudi, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alai wa sallam:
"Hari kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin memerangi orang-orang yahudi, lalu kaum musliminpun membunuh mereka, sampai-sampai ada seorang yahudi yang bersembunyi dibalik batu dan pohon, lalu batu atau pohon itu berkata: 'wahai orang Islam, wahai hamba Alloh  ini orang yahudi dibelakangku, kemarilah bunuhlah dia!. Kecuali pohon ghorqod, sesungguhnya ghorqod itu pohon orang-orang yahudi." (HR. Muslim)
Maka di dalam hadits ini juga terdapat peringatan bahwasanya pertarungan yang menentukan dengan musuh itu, terjadi dengan cara pambunuhan dan peperangan, bukan dengan cara membuang-buang kekuatan umat selama puluhan tahun, dengan melalui jalan lain, seperti tipu daya demokrasi dan yang lainnya.
Gelombang Tsunami Revolusi Menghantam Kekuasaan Para Diktaktor
Kini, setelah 88 tahun berlalu, gaung kebangkitan Islam yang sejak lama diperjuangkan mulai menampakkan hasilnya. Kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia melihat secercah harapan kembalinya kejayaan dan keberkahan hidup di bawah naungan syariat Islam di bawah sistem pemerintahan Islam, Khilafah Islamiyyah.
Nubuwwah dari Rasulullah SAW., yang memberitakan akan berakhirnya masa kepemimpinan para diktaktor yang kejam dan bengis dan menjadi awal kemunculan sistem Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian mulai terlihat tanda-tandanya.
"Dari Nu'man bin Basyir dari Hudzaifah bin Yaman radliallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
 "Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWWAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Kerajaan yang Diwariskan (MULKAN ADLON), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Pemerintahan Diktaktor yang bengis (MULKAN JABARIYYAH), adanya atas kehendak Allah. Allah mengangkatnya apabila Ia menghendaki untuk mengangkatnya. Kemudian masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (KHILAFAH 'ALAA MINHAJIN NUBUWWAH)". Kemudian beliau (Nabi) diam." (H.R. Ahmad dan Al Baihaqi. Misykatul Mashabih: Bab Al Indzar wa Tahdzir, Al Maktabah Ar Rahimiah, Delhi, India. Halaman 461. Musnad Ahmad, juz 4, halaman 273)
Syekh Hasan Umar hafizhahullah dalam artikelnya yang berjudul “Ruha al-Islam Dairah” (Roda Islam terus berputar) menjelaskan fase-fase dari Nubuwwah Rasulullah SAW., secara panjang lebar dan terperinci.
“Nabi SAW., memberitahukan, pada saat itu masa kenabian, bahwa masa kenabian beliau akan berlangsung di tengah umatnya ini sampai masa beliau wafat. Setelah itu datang masa khilafah rasyidah yang akan bertahan di tengah umat ini selama masa waktu tertentu. Kemudian Allah SWT., akan mengangkat masa tersebut.  
Hal itu ternyata benar-benar terjadi. Kemudian muncul masa raja ‘adhun, yaitu kerajaan yang diwariskan. Masa tersebut terjadi sejak era Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, saat ia mengambil baiat untuk anaknya Yazid bin Mu’awiyah padahal saat itu Mu’awiyah masih hidup. Kerajaan yang diwariskan menjadi milik Bani Umayyah, lalu menjadi milik daulah Abbasiyah sampai selesai, kemudian daulah Mamluk, dan daulah Utsmaniyah. Daulah Utsmaniyah kemudian berakhir di tangan seorang sekuleris militeris, Musthafa Kamal Attaturk. Negara-negara Eropa berperan besar dalam menjatuhkan daulah Utsmaniyah, sehingga khilafah Utsmaniyah runtuh pada bulan Maret 1924 M.
Era kerajaan yang diwariskan (monarchi) telah berakhir, digantikan oleh pemerintahan militer atas negeri-negeri Islam pada abad 20 M. Bahkan, meski pihak militer yang tidak naik ke kursi kekuasaan, namun sisa-sisa kerajaan yang diwariskan seperti Arab Saudi, Yordania, dan Maroko mempergunakan bantuan kekuatan militer yang besar, dengan peralatan dan persenjataan modern untuk memberangus pihak oposisi dan siapa pun yang membenci penguasa tersebut. Pemerintahan tersebut secara realita adalah pemerintahan diktator, meski secara nama masih berupa kerajaan yang diwariskan.
Kekuasaan sepenuhnya digenggam oleh pemerintahan-pemerintahan diktator tersebut dengan banyak metode. Metode yang paling penting adalah: - aparat keamanan yang kuat yang menjaganya, memberangus para oposisi, mempergunakan media massa dan para jurnalis untuk ‘mencetak’ (membentuk) akal pemikiran rakyat sesuai kehendak para penguasa, suatu cara yang bisa disebut ‘operasi pencucian otak’. Mereka memenuhi otak rakyat dengan pemikiran-pemikiran yang mendukung para penguasa atau melalaikan rakyat dari dien Allah dan problematika-problematika umat yang paling menentukan nasib mereka, yaitu media massa memberikan porsi yang sangat besar untuk aspek seni, olahraga, lagu-lagu (musik), lawakan, dan seterusnya.
Para tokoh agama yang berubah menjadi para pegawai pemerintahan. Ketika melihat kemungkaran, mereka memegang prinsip: ‘Saya tidak melihat, tidak mendengar, dan tidak mengatakan’. Mereka berperan seperti para pendeta yang menganggap suci para penguasa, bukan berperan sebagai tokoh iman yang mengingkari kemungkaran penguasa dan meluruskan kekeliruannya, bukan pula berperan sebagai pemimpin umat yang mengembalikan hak-hak umat yang hilang.
Diantara metode terpenting para penguasa diktator tersebut adalah mengikuti kemauan Barat di bidang politik dan militer, dengan mencampakkan persoalan Palestina dari realita perjuangan, karena mereka semua sibuk menjalin perdamaian dengan Israel.
Maka kekuatan militer Amerika dipersilahkan bercokol di Kuwait, Teluk, dan Arab Saudi. Sikap politik negara-negara kawasan Teluk berada di bawah payung politik Amerika. Amerika bahkan melakukan intervensi sangat dalam, sampai taraf menentukan para penguasa di beberapa negeri Islam. Para penguasa tersebut meminta bantuan kekuatan adidaya (salibis Amerika dan Eropa) ini  dan mereka menindas rakyat mereka sendiri. Maka mereka layak menyandang nama ‘Pemerintahan Diktator’.
Kini nasib para pemerintahan diktator ini mulai sempoyongan dan hendak roboh, dengan dimulainya revolusi rakyat di Tunisia, lalu di Mesir, lalu demonstrasi-demonstrasi dan bentrokan-bentrokan terjadi di Yaman, Libya, dan lain-lain. Semuanya terjadi secara berentetan, dengan kecepatan yang mengagumkan. Semuanya memiliki kemiripan dan beraksi secara cepat.
Kita tidak melihat ada penafsiran atas berbagai kejadian ini yang lebih jujur dari penafsiran Nabi SAW, yang telah memberitahukan kepada kita bahwa pemerintahan diktator akan menguasai umat ini selama masa yang Allah kehendaki. Allah kemudian akan mengangkatnya jika Allah telah menghendakinya.”
88 Tahun Tanpa Khilafah : From Imarah To Khilafah
Kini kita melihat dengan jelas permulaan hilangnya pemerintahan diktator, dan dengan izin Allah semua pemerintahan diktaktor tersebut akan lenyap. Jika pemerintahan diktator telah hilang, niscaya akan digantikan oleh fase khilafah yang berjalan di atas minhaj (metode) kenabian, seperti yang telah diberitahukan oleh nabi Muhammad SAW.
Gelombang tsunami revolusi Islam yang awalnya muncul di Tunisia telah melanda Timur Tengah dan kini menghantam kekuasaan pemerintahan diktaktor. Keruntuhan rezim diktaktor Tunisia, disusul Mesir, Libya, dan kini Suriah menjadi tanda dan bukti benarnya berita kenabian Rasulullah SAW.
Sementara itu, fenomena kemunculan negara-negara Islam atau yang lebih dikenal dengan Imarah Islam, seperti Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam Kaukasus, Imarah Islam Somalia, dan Daulah Islam Iraq menjadi penanda dan bukti yang menguatkan bahwa masa kedatangan Khilafah Islamiyyah yang mengikuti metode kenabian sudah semakin dekat. Karena seluruh Imarah Islam yang ada bercita-cita mewujudkan Khilafah Islamiyah mengikuti metode kenabian.
Imarah Islam, seperti Imarah Islam Afghanistan, Imarah Islam Kaukasus, Imarah Islam Somalia, dan Daulah Islam Iraq, dalam timbangan syar’i masuk dalam kategori “Imarah Khos” atau Imarah Khusus, yakni sebuah kekuasaan spesifik (Khusus) dari sebuah kepemimpinan Islam atas wilayah yang khusus pula, dimana syariat Islam diterapkan di wilayah tersebut.
Imarah Khos (Imarah Khusus) ini suatu saat bisa berkembang dan akhirnya mampu bi idznillah untuk menegakkan “Imarah Aam” (Imarah Umum) atau yang kita kenal dengan nama Khilafah untuk seluruh kaum Muslimin di dunia yang akan mewujudkan ketentraman, kesejahteraan, dan turunnya rahmat Allah SWT., tidak hanya kepada umat Islam, melainkan juga kepada umat non Muslim, bahkan kepada seluruh alam semesta.
Di saat itulah Nubuwwah Rasulullah SAW., kembali terbukti, dengan munculnya masa atau fase Khilafah ala Minhajin Nubuwah, yakni Khilafah yang mengikuti metode kenabian pasca runtuhnya pemerintahan diktaktor, dan diawali dengan kemunculan Imarah Islam. From Imarah To Khilafah, Insya Allah!

By: M. Fachry
International Jihad Analysis

Tuesday, March 27, 2012

Pernahkah Syiah Melawan Zionis?


Salah satu alasan yang membuat kaum Syiah Rafidhah selalu berbunga-bunga ialah sebagai berikut…
[=] Syiah adalah musuh terbesar Amerika dan Israel.
[=] Syiah adalah musuh utama Zionis Yahudi yang sangat ditakuti karena punya intalasi nuklir.
Sejarah Syiah: "Selalu Menusuk Ahlus Sunnah dari Belakang. Dan Tak Pernah Perang Melawan Orang Kafir."
[=] Hizbullah adalah sosok kekuatan Syiah yang selalu gagah-berani menghadang barisan Zionis Israel.
[=] Sementara Saudi, Kuwait, dan Qatar, selalu bermanis-manis kata dengan dedengkot Yahudi, yaitu Amerika.
[=] Revolusi Khomeini adalah revolusi Islam yang menginspirasi perjuangan gerakan-gerakan Islam di dunia.
Ya, kurang lebih begitu klaim para aktivis agama Persia (Syiah Rafidhah) ini. Di berbagai forum, kesempatan, termasuk dalam diskusi di blog ini, alasan-alasan itu selalu mereka munculkan. Seakan-akan, tidak lagi alasan bagi Syiah untuk tetap eksis di muka bumi, selain klaim-klaim seperti itu.
Lalu bagaimana pandangan kita sebagai Ahlus Sunnah tentang klaim kaum Syiah ini?
Mari kita bahas secara ringkas dan praktis, dengan memohon pertolongan Allah Al Hadi…
PERTAMA. Kaum Syiah Rafidhah itu terus bekerja keras dan sangat nafsu, agar mereka tetap diakui sebagai Islam, tetap dipandang sebagai Muslim, tetap menjadi bagian dari kaum Muslimin sedunia. Hal ini adalah hakikat siksaan spiritual yang Allah timpakan atas hati-hati mereka, selamanya. Mereka telah sangat berdosa karena mencaci, melecehkan, mengutuk, dan mendoakan keburukan atas isteri-isteri Nabi, para Khulafaur Rasyidin, dan para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum. Maka Allah pun menjadikan mereka selalu gelisah, takut, dan sangat menginginkan diberi label Islam atau Muslim. Mereka selalu dalam kebingungan seperti ini, layaknya Bani Israil yang kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih, karena telah menghina Musa ‘Alaihissalam dan Allah Ta’ala. Lihatlah manusia-manusia pemeluk agama Persia (Rafidhah) itu…mereka kemana-mana membawa laknat atas doa-doa laknat yang mereka bacakan untuk mengutuki manusia-manusia terbaik dari para Shahabat Radhiyallahu ‘Anhum.
KEDUA. Dalam sejarahnya, sejak zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu sampai hari ini, ketahuilah bahwa Syiah Rafidhah (agama Persia) ini tidak pernah berjihad melawan kaum kufar, baik itu Nashrani, Yahudi, musyrikin, dan orang-orang atheis. Syiah tidak punya sejarah jihad menghadapi kaum kufar. “Jihad” kaum Syiah sebagian besar diarahkan untuk menyerang kaum Sunni, sejak zaman dahulu sampai saat ini.
Mula-mula Syiah di Kufah mengundang Husein Radhiyallahu ‘Anhu datang ke Kufah, katanya mau dibaiat. Karena Husein sudah berangkat ke Kufah, oleh penguasa kala itu (Yazid bin Muawiyah) Husein dianggap bughat, sehingga boleh ditumpas. Waktu tiba di Kufah, tak satu pun kaum Syiah keluar untuk membaiat, menolong dan mendukung Husein. Posisi Husein sangat terjepit, akan kembali ke Madinah, dia sudah dianggap bughat. Meminta bantuan Kufah, tak satu pun Syiah yang akan menolong. Akhirnya, Husein ditumpas di Padang Karbala. Bahkan kala penumpasan itu, tak satu pun hidung Syiah menampakkan diri, walau sekedar untuk menolong korban dari pihak Husein dan keluarganya. Nah, peristiwa pembantaian Husein oleh kaum Syiah itulah yang selalu mereka rayakan dan nikmati dalam momen-momen Asyura. Air mata mereka mengutuk para pembunuh Husein, sedangkan hati mereka berucap: “Alhamdulillah Husein dan keluarganya telah binasa di Karbala.”
“Jihad” kaum Syiah berikutnya ialah membantu Hulagu Khan (penguasa Mongol) untuk menumpas Khilafah Abbassiyah. Kemudian mereka berusaha melenyapkan kaum Sunni di Mesir, tetapi berhasil ditumpas oleh Nuruddin Mahmud Zanki. Mereka terus menikam perjuangan Shalahuddin Al Ayyubi. Mereka juga selalu menjadi musuh Khilafah Turki Utsmani, selalu kerjasama dengan negara-negara Nashrani Eropa untuk melemahkan Khilafah Turki. Di zaman kontemporer, Revolusi Khomeini di Iran telah menumpas Ahlus Sunnah di Iran. Mereka juga menikam perjuangan mujahidin di Afghanistan. Mereka membantai Ahlus Sunnah di Irak, Libanon, Suriah, Yaman, bahkan mereka hampir menguasai Bahrain.
Singkat kata, tidak ada Jihad kaum Syiah dalam sejarah, selain “jihad” yang diarahkan untuk memusnahkan dan menghancur-leburkan kaum Sunni. Sejarah klasik dan modern sudah memaparkan fakta. Bahkan dalam kasus Iran Contra Gate terbongkar skandal besar. Ternyata, di balik gerakan Kontra di Nikaragua, Amerika memasok senjata kepada para gerilyawan itu. Darimana dananya? Dari hasil kerjasama jual-beli minyak dengan Iran. Padahal dalam kampanye dunia, sudah dimaklumkan bahwa Amerika itu sedang konflik dengan Iran. Tetapi di balik itu ada sandiwara “jual-beli minyak” yang menggelikan. Kasus ini sangat terkenal, sehingga seorang kolonel Amerika dikorbankan sebagai tumbalnya.
KETIGA. Apa sih yang dilakukan Hizbullah (Syiah Rafidhah) di Libanon kepada Israel? Apakah dia terlibat perang terbuka dengan Israel? Apakah dia menduduki wilayah Israel dan berusaha mengusir penduduk Yahudi? Ternyata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya melepaskan tembakan mortir ke arah pasukan Israel atau wilayah Israel. Atau mereka melakukan tembakan senapan, atau tembakan rudal anti tank. Hanya itu saja. Mereka tidak pernah terlibat perang terbuka vis a vis, seperti para pejuang Ahlus Sunnah di Irak, Afghanistan, Chechnya dan lainnya. Jadi singkat kata, aksi-aksi Hizbullah itu hanya semacam “main-main” untuk membuang amunisi-amunisi ringan. Itu saja kok.
KEEMPAT. Dalam sejarah perang Arab-Israel, sejak merdeka tahun 1948 Israel sudah berkali-kali bertempur dengan pasukan Arab. Yang terkenal adalah perang tahun 48, perang tahun 67, dan perang tahun 70-an. Ia kerap disebut perang Arab-Israel. Setelah itu belum ada lagi perang yang significant. Dalam sejarah ini, lagi-lagi tiada peranan Iran sama sekali. Bahkan ketika Ghaza dihancur-leburkan Israel pada tahun 2008-2009 lalu, Iran lagi-lagi tidak terlibat apa-apa. Jadi, apa yang bisa dibanggakan dari manusia-manusia pemeluk agama Persia (Syiah Rafidhah) itu?
KELIMA. Menurut Ustadz Farid Okbah, di Iran itu sangat banyak orang-orang Yahudi. Menurut informasi, jumlahnya bisa mencapai 50.000 jiwa. Mereka bisa hidup aman dan sentosa di Iran, sedangkan Ahlus Sunnah hidupnya sangat menderita disana. Iran bersikap welcome kepada kaum Yahudi, dan sangat ofensif kepada kaum Muslimin. Ini adalah realitas yang sangat menyedihkan. Makanya tidak salah kalau ada yang mengatakan, Rafidhah lebih sadis dari orang-orang kafir lain.
Contoh yang sangat unik ialah kerjasama antara Hamas dan Iran. Banyak orang menyebutkan, Hamas kerap kerjasama dengan Iran. Hal itu konon berdasarkan sikap Syaikh Al Bana yang dulunya pernah berujar, bahwa Syiah adalah sesama saudara Muslim juga. Mereka sama-sama Ahlul Qiblah. Tetapi realitasnya, Ikhwanul Muslimin di Suriah dibantai puluhan ribu manusia disana oleh regim Hafezh Assad. Ternyata, regim itu dan anaknya, dibantu oleh Iran juga. Nah, ini kan sangat ironis. Hamas kerjasama dengan Iran, sementara Al Ikhwan di Suriah dibantai oleh regim Suriah yang didukung oleh Iran.
KEENAM. Propaganda bahwa Syiah Rafidhah itu musuh Zionis Israel, semua ini hanya propaganda belaka. Sejatinya mereka itu teman-karib, sahabat dekat, saling tolong-menolong, sebagian menjadi wali atas sebagian yang lain. Mereka ini selamanya tak akan pernah terlibat dalam peperangan. Kaum Yahudi membutuhkan Iran, sebagai seteru Ahlus Sunnah. Sedangkan Iran membutuhkan Yahudi, juga sebagai seteru Ahlus Sunnah. Dalam hadits Nabi Saw juga disebutkan bahwa kelak dajjal akan muncul dari Isfahan (salah satu kota di Iran yang saat ini banyak dihuni Yahudi) dengan 70.000 pasukan. Yahudi membutuhkan Iran, karena darinya akan muncul pemimpin mereka. Dan dalam literatur-literatur Syiah, sosok dajjal itu sebenarnya adalah sosok “Al Mahdi Al Muntazhar” yang selalu mereka tunggu-tunggu. Begitulah, banyak kesamaan kepentingan antara Syiah dan Yahudi.
KETUJUH. Fakta berikutnya yang sangat mencengangkan. Ternyata Syiah Iran juga menjalin kerjasama dengan China dan Rusia, dua negara dedengkotnya Komunis. Mereka ini umumnya kerjasama dalam soal industri, perdagangan, dan jual-beli senjata. Ketika Amerika berniat menjatuhkan sanksi akibat instalasi nuklir Iran, segera China dan Rusia memveto niatan itu. Kedua negara terang-terangan membela Iran. Begitu juga China dan Rusia juga membela regim Bashar Assad (semoga Allah Al Aziz segera memecahkan kepala manusia durjana satu ini, amin ya Mujibas sa’ilin) dari ancaman sanksi internasional. Sedangkan kita tahu, regim Suriah sangat dekat koneksinya dengan Iran. Jadi, kita bisa simpulkan sendiri posisi Iran di mata China, Rusia, dan regim Suriah.
Jadi kalau kemudian kita mendengar propaganda Syiah anti Yahudi, Syiah anti Amerika, Syiah anti Zionis, dan sebagainya…ya sudahlah, saya akan ketawa saja. Tidak usah dianggap serius. Anggaplah semua itu hanya “olah-raga kata-kata” saja (meminjam istilah seorang politisi busuk). Syiah selamanya akan berkawan dengan kaum kufar dan sangat apriori dengan kaum Muslimin (Ahlus Sunnah). Mereka itu lahir dari sejarah kita, tetapi wujud dan hatinya milik orang kafir. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.
Semoga artikel sederhana ini bermanfaat. Semoga kita semakin sadar, bahwa Syiah Rafidhah bukanlah kawan. Mereka membutuhkan istilah kawan selagi masih lemah. Nanti kalau sudah kuat, mereka akan menghancur-leburkan Ahlus Sunnah. Tetapi cukuplah Allah Ta’ala sebagai Wali, Pelindung, dan Penolong kita. Dialah sebaik-baik Pelindung dan Penjaga. Walhamdulillahi Rabbil a’alamiin

Saturday, March 24, 2012

Awas... Rudal Korut diarahkan ke Asia Tenggara dan Australia

SEDELAIDE,  Amerika Serikat memperingatkan bahwa peluncuran rudal Korea Utara di bulan April mendatang diarahkan ke Asia Tenggara dan Australia untuk pertama kalinya. Peringatan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Kurt Campbell dalam pertemuan dengan Menlu Australia, Bob Carr di Sydney hari Jumat (23/3/2012) kemarin.

Selama ini, rudal jarak jauh Korea Utara selalu diarahkan ke arah timur, ke arah Jepang. Namun sekarang menurut laporan dinas intelejen Amerika Serikat, arah peluncuran rudal itu untuk pertama kalinya adalah ke selatan.
"Bila peluncuran itu berjalan seperti yang direncanakan Korea Utara, maka kami perkirakan daerah yang menjadi sasaran adalah di wilayah antara Australia, Indonesia, dan Filipina," kata Kurt Campbell yang merupakan Wakil Menlu AS untuk Asia Timur dan Pasifik, seperti dilaporkan harian The Sydney Morning Herald.
"Kami tidak pernah melihat arah peluncuran seperti ini sebelumnya. Oleh karenanya, kami sudah memperingatkan kepada negara-negara ini dan meminta mereka mengecam rencana peluncuran rudal dan mendesak Korea Utara guna menghentikannya." tambah Dr Campbell.
Setelah pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr mengatakan, rencana peluncuran rudal jarak jauh Korea Utara tersebut merupakan ancaman nyata terhadap keamanan kawasan dan Australia.
Menurut laporan koresponden Kompas di Australia, L. Sastra Wijaya, Perdana Menteri Australia Julia Gillard dan juga Presiden AS Barack Obama bersama 50 pemimpin lainnya akan bertemu di ibukota Korea Selatan, Seoul hari Senin guna mendiskusikan program perlucutan senjata nuklir Korea Utara.
Pengumuman dari Korea Utara minggu lalu bahwa mereka akan meluncurkan rudal jarak jauh tanggal 15 April mendatang diperkirakan akan menjadi topik utama pembicaraan.

Muslim Bertambah, Tapi Masjid Justru Kurang



 



-Di suatu hari yang dingin di bulan Maret, ribuan umat Muslim melakukan sholat Jumat di luar masjid tertua di jalan Bolshaya Tatarskaya pusat kota Moskow. Mereka melaksanakan sholat di jalanan yang tertutup salju.
Suara klakson mobil terdengar di jalan tersebut dan masyarakat lokal berupaya untuk melintasi jalur tersebut.

Pemandangan yang sama terjadi di seluruh masjid yang ada di Moskow yang berjumlah empat buah, ketika puluhan ribu umat Muslim melaksanakan sholat Jumat.

Lebih dari dua juta Muslim saat ini tinggal dan bekerja di Moskow. Dan menjadi salah satu negara dengan komunitas muslim terbesar di Eropa dan tak lagi dapat ditampung masjid yang ada di kota tersebut.

Para Muslim yang sebagian besar adalah pemuda imigran dari negara bekas Uni Soviet, Asia Tengah dan Kaukakus.

Kemiskinan dan konflik memaksa mereka untuk mengadu nasib di Rusia, mereka sebagian besar berasal dari Uzbekistan, Tajikistan dan Kirgistan yang bekerja dan mendapatkan tempat tinggal baru di Moskow.

"Ada banyak sekali dari (negara) kami," kata Ulugbek, seorang migran dari Uzbekistan. "Kami harus bersyukur bahwa ada masjid di Moskow. Kota yang tidak disiapkan dengan kedatangan jutaan dari kami yang secara tiba-tiba," ujarnya dikutip BBC, Kamis (22/03/2012).

Tetapi yang lain berpikir bahwa otoritas mengabaikan kebutuhan penduduk Muslim.

Hasan Fakhritdinov, imam masjid bersejarah di Moskow, mengatakan bahwa fasilitas yang ada tidak cukup.

"Kami meminta kepada otoritas untuk mengijinkan kami membangun masjid baru, tetapi mereka mengabaikan keinginan kami," kata dia. "Sekarang orang harus sholat di luar di tengah hujan atau salju."

Masjid Tatar yang merupakan tertua di Moskow sudah berubah menjadi bangunan baru. Tetapi meski demikian tetap tidak dapat menampung orang yang beribadah.

"Moskow-abad"

Pendapat masyarakat di Moskow akan kebutuhan masjid untuk penduduk Muslim pun terpecah.

"Moskow berkembang dan itu menarik lebih banyak migran yang menjadi Muslim," seperti disampaikan dua perempuan muda yang berjalan dekat masjid tua."Rusia membangun gereja dan tidak boleh seorang pun menghentikan Muslim untuk membangun masjid mereka".

Tetapi warga lainnya khawatir jika terlalu banyak pendatang akan mengubah budaya dan gaya hidup Rusia.

"Orang melontarkan gurauan Moskow telah menjadi Moskow-abad," kata Yuri Gorsky, seorang aktivis dari kelompok nasionalis Russovet, yang meminta kedatangan imigran diperketat.

"Saat ini tidak banyak wajah Slavik yang anda lihat di jalanan. Saya tidak keberatan imigran dari negara Slavik tetapi kita harus menyetop Muslim ini."

Dulu pernah terjadi serangan xenophobia (ketakutan terhadap orang asing) terhadap imigran muslim di Rusia, tetapi jumlah itu menurun secara drastis selama beberapa tahun terakhir.

Kelompok HAM Rusia, Sova Center melaporkan tujuh orang tewas dan 28 lain terluka akibat serangan pada tahun 2011, sementara pada tahun 2008 jumlah korban tewas mencapai 57 dan 196 mengalami luka pada 2008.

Kota Samosa
Samosa yang berasal dari Asia Tengah menjadi makanan yang populer di Moskow.

Banyaknya jumlah imigran di Moskow, juga memberikan perubahan dan pekerjaan baru.

Sejumlah toko Halal dan cafe dibuka di sejumlah wilayah di kota tersebut, dari restoran mahal dimana anda dapat menghabiskan US$200 untuk makan siang, sampai toko yang menjual makanan murah untuk dibawa pulang.

Penjualan panganan khas Asia Tengah juga marak, seperti roti dan samosa.

Samosa halal menjadi makanan yang populer di Moskow. Tetapi bukan hanya makanan halal dan masjid yang penuh yang menunjukan kehadiran Islam disana.

Kehidupan masyarakat di ibukota Rusia pun berubah.

Zarif, yang berasal dari Tajikistan, dan istrinya yang orang Rusia Yelena tinggal di sebuah apartemen tanpa kamar di bagian utara Moskow.

Seperti keluarga lainnya, keduanya memiliki pekerjaan dan berupaya untuk pindah ke tempat tinggal yang lebih besar.

Zarif yang Muslim dan Yelena yang berasal dari keluarga Kristen Ortodoks, mengatakan awalnya pernikahan mereka sulit untuk mendapatkan dukungan, tetapi sekarang semua sudah berubah.

Muslim meningkat

Jumlah orang Rusia yang menganut Islam pun meningkat, di antara mereka adalah Ali Vyacheslav Polosin, mantan pendeta Ortodok dan politisi.

Dia merupakan salah seorang yang berada di garis depan dalam mengkampanyekan agar Hari Natal Ortodok menjadi hari libur nasional di Rusia.

Tetapi 12 tahun yang lalu, dia pindah agama dan sekarang menjalankan pusat dukungan Muslim di Moskow, mengajar dan memberikan nasihat kepada orang Rusia yang baru menganut Islam atau Mualaf.

Ayesha Larisa, yang bekerja untuk pusat dukungan itu, mengatakan telah memiliki anggota sebanyak 10.000 orang perempuan mualaf.

"Mereka butuh bantuan dan nasihat kami," kata Ayesha. "Kami mengajari mereka cara beribadah, atau membantu mereka jika memiliki masalah dengan anggota keluarganya."

Islam menjadi agama terbesar kedua di Rusia, tetapi tidak pernah terlihat di Moskow seperti saat ini.

Kondisi itu tampaknya akan berkembang, karena penduduk Rusia semakin terlihat sedikit dengan meningkatnya imigran dari negara Muslim bekas Uni Soviet.


Monday, March 19, 2012

Sumber Oposisi Sebut Pasukan Khusus Rusia Telah Tiba di Pelabuhan Suriah

Pasukan khusus Rusia telah tiba di kota pelabuhan Mediterania Suriah Tartus, sumber-sumber oposisi mengatakan kepada Al Arabiya, Senin kemarin (19/3).
Situs informasi intelijen militer Israel DEBKAfile juga melaporkan bahwa dua kapal angkatan laut Rusia telah berlabuh di pelabuhan Suriah Tartus.
Situs ini mengutip laporan dari markas Laut Hitam di Sevastopol Rusia. Misi dari kapal itu tidak diungkapkan, tapi dilaporkan membawa satu unit "marinir anti-teroris" dan yang lainnya sebuah kapal militer yang bergabung sebagai pengintai angkatan laut Rusia dan kapal pengawas yang sudah berlabuh di Tartus.
Pelabuhan Suriah Tartus sekarang merupakan pangkalan angkatan laut yang dimiliki Rusia di luar Uni Soviet. Sebuah skuadron angkatan laut Rusia melakukan manuver di sana pada bulan Januari lalu dalam apa yang dipandang oleh banyak orang sebagai tanda dukungan kepada Assad.

Juga di bulan Januari, sebuah kapal Rusia diduga membawa berton-ton amunisi untuk Suriah.
Wakil Menteri Pertahanan Rusia Antonov sebelumnya mengatakan bahwa personil militer dan teknisi Rusia hadir di Suriah dan mengatakan negaranya akan mematuhi kontrak yang sudah ada untuk memberikan senjata ke Suriah meskipun adanya tindakan keras Assad kepada oposisi.
Antonov mengatakan pasokan senjata Rusia ke Suriah ini sejalan dengan hukum internasional dan akan terus berlanjut. "Kerjasama militer Rusia-Suriah adalah sah," katanya menegaskan.
"Satu-satunya yang mengkhawatirkan kami saat ini adalah keamanan warga negara kami," kata Antonov dalam referensi ke personil militer Rusia di Suriah yang melatih warga Suriah dalam penggunaan senjata yang dipasok oleh Rusia.
Dia menolak untuk mengatakan berapa banyak dari mereka yang saat ini ditempatkan di Suriah.
"Itu bagian dari kewajiban kontrak kami," kata Antonov, yang mengawasi kerja sama teknis militer dengan negara-negara asing. "Ketika kami suplai senjata, kami juga harus menyediakan pelatihan.

Tuesday, March 13, 2012

How does Gog and Magog/Jajuj Majuj relate to Armageddon?

Sebelum anda membaca semua artikel dibawah ini saya jelaskan ini adalah pandangan atau pendapat dari
author Cristian / Nasrani..biar kita bisa bandingkan semoga kita bisa mengerti ...selamat membaca ..admin.


How does Gog and Magog relate to Armageddon?


-
Many are discussing an upcoming, final world war, even if they are unbelievers in Christ. How does the biblically predicted battle of Gog and Magog fit into this scenario?
-
-
Definitions:
First of all, it appears that the battle of Gog and Magog is NOT the battle of Armageddon (the final war of nations).
-
-
Armageddon – attack first from the east, and then an attack by the entire world. They come to one place:
Rev 16:12 the kings east of the Euphrates come.
Rev 16: 14 the kings of the earth and the whole world come (this would include Gog and Magog)
*** I personally think that the “whole world” is not literal. I think it means all those who are personally against Israel, or the Antichrist. If current attitudes prevail at that time, the “whole world” will be represented by those who have an interest in the region, the power that would go with it, and the willingness to fight.
Certain countries, especially Europe, have demonstrated such a cowardice and passivity to terrorism, and other real threats, that they would choose to allow the enemies to invade their countries, rather than fight back. It would be hard to imagine tiny neutral countries, like Iceland and the Philippines, to be involved at all.
I think this passage refers to such a massive amount of troops, that it seems like the “whole world” is involved. But maybe I am wrong.
Rev 16: 16 they all gather in the valley of Armageddon. (Har Megiddo)
*** the Battle of Armedeggon is also described in Zechariah 12-14, where “all nations” come against Jerusalem. The Messiah comes at this point to the Mount of Olives, an earthquake occurs, and Israel is delivered from her enemies, who are destroyed. The Lord strikes the enemies with a plague, and their flesh dissolves.
-
-
Gog and Magog – Attack from the north only, which covers the land:
Eze 38:2 Son of man, set thy face against Gog, the land of Magog, the chief prince of Meshech and Tubal, and prophesy,
Eze 38:3 And say, Thus saith the Lord GOD; Behold, I [am] against thee, O Gog, the chief prince of Meshech and Tubal:
***Gog, Magog, Meshech and Tubal are associated in some way. The English translation adds “against him” after the word “prophesy,” but the Hebrew does not say this. These could be 4 separate, but geographically close, regions with their own rulers. Originally, in ancient times, they were all associated with the Middle eastern countries, especially Turkey. Also remember that the Ottoman empire used to control the region.
Gog’s alliance with certain countries only
Eze 38:4 And I will turn thee back, and put hooks into thy jaws, and I will bring thee forth, and all your army, horses and horsemen, all of them clothed with all sorts [of armor, even] a great company [with] bucklers and shields, all of them handling swords:
***think about who, in modern times, would use swords in battle.
***notice he is using horses. The fall of Babylon is associated with a battle using horses (Rev. 14:20).
Why would modern forces use horses?????
Has a missile defense system knocked out the power, and reduced the area to the 19th century conditions?
Eze 38:5 Persia, Ethiopia, and Libya with them; all of them with shield and helmet
***Persia is Iran. Ethiopia and Libya are in North Africa.
Eze 38:6 Gomer, and all his bands; the house of Togarmah of the north quarters, and all his bands: [and] many people with thee.
***Gomer – descendent of Japheth, son of Noah. Gomerites were found in Galatia, which is in modern Turkey. Togarmath is a descendent of Gomer. With general migration of population, many interpret Gomer as Europe. Some interpret Magog as “north” but the bible does not give a location.
-
-
Gog’s attack against Israel and his defeat
Eze 38:15 And thou [Gog] shall come from thy place out of the north parts, thou, and many people with thee, all of them riding upon horses, a great company, and a mighty army:
***Notice Gog is north of Israel. Many believe that Russia is also involved as descendents of Japeth, and because Russia is also north, with cities named after ancient origins.
Eze 38:18 And it shall come to pass at the same time when Gog shall come against the land of Israel, says the Lord GOD, [that] my fury shall come up in my face.
Eze 39:4 Thou shall fall upon the mountains of Israel, thou, and all thy bands, and the people that [is] with thee: I will give thee unto the ravenous birds of every sort, and [to] the beasts of the field to be devoured.
***Gog gets destroyed in the mountains, not a valley like Megiddo, and becomes bird food.
-
-
Magog is destroyed by fire
Eze 39:6 And I will send a fire on Magog, and among them that dwell carelessly in the isles: and they shall know that I [am] the LORD.
Eze 39:9 And they that dwell in the cities of Israel shall go forth, and shall set on fire and burn the weapons, both the shields and the bucklers, the bows and the arrows, and the hand staves, and the spears, and they shall burn them with fire seven years:
*** there are islands close to Magog. There are islands in the Red Sea near Ethiopia, one of Gog’s allies. Also, there are numerous small islands in the Persian Gulf.
*** what kind of weapons take 7 years to burn? This is one possibility: http://www.cnn.com/2003/US/South/08/09/anniston.chemical.burn/index.html
-
-
-
-
-
-
-
–
-
-
-
-
-
The general evil nature of Gog and Magog will persist until the very end when Satan is loosed once more after 1000 years for a final battle.

Rev 20:8 And [Satan] shall go out to deceive the nations which are in the four quarters of the earth, Gog and Magog, to gather them together to battle: the number of whom [is] as the sand of the sea.
-
-
Gog and Magog today
The nations of Ezekiel 38 must be taken literally. When that is the case, you find that Magog, the place where Antichrist comes from, is right in the heart of the territory that Satan has always controlled. Ezekiel’s Gog is the enemy from the north (Ezechiel 38:15). In the Old Testament, the king of the north has reference to the areas of Syria, Turkey, and Iraq (Babylon).
****Iran is to the north east, and is involved. Persia (Iran) is mentioned in the attack as an ally.
**** also an ally are 2 kings from the south in this battle – Ethiopia and Libya.
That territory has come down through history in the hands of many nations: Assyria, Babylon, Medo-Persia, Grecia, Rome, Muslim and Hashemite. Those are the Empires and Kingdoms that have occupied the land of the Bible.
-
-
Possible Location # 1 of Gog and Magog
Meshech, Tubal, Togarmah, Dedan and Syria traded with Tyre six centuries before Christ [Ezek.27:13-16]. These lands clearly define the north. The fact that some scholars equate the names of ancient Middle East cities with modern English cognates seems wrong. Meshech is NOT Moscow; Moscow just had its 850th birthday. The Hebrew word ‘rosh’ is translated head or chief 423 times in the Old Testament. Rosh is not Russia. Although it may be involved in end time events, the kings of the north have historically acted against Israel, whether Russia helped or not.
All atlases of the Bible printed before the 1940′s [and the Russian scare] show the land of Gog to be in Turkey, and Magog to be in the Northern part of modern day Iraq, just north of Bagdadd. Meshech and Tubal are in the area that today is Turkey and portions of northern Syria as well as northern Iraq. This is the center of the former Ottoman empire, which could re-form.
However, if the view is correct that these groups have spread out over time, and went “more north,” then the following maps might represent the Gog and Magog areas.
-
-
-
-
-
-
-
-
Possible Location # 2 of Magog
Jewish Talmudic studies however, identify the regions of southern Iran, Afghanistan, and all of Pakistan as the “land of Magog.” Magog is Germania/Germaya/Gitya, which is a province in Persia. (Jerusalemite Talmud, tractate Megila, chapter 1, Halacha 9, page 10A). According to Josephus, Magog founded those that from him were named Magogites, but who are by the Greeks called Scythians. (Antiquities 6:1)
The Scythians were an Iranian nomadic people who spoke Iranian language, but their origins is unknown. The Sakas are considered to be a branch of Scythians by most scholars. Saka is the usual Persian term, while Scythian is a Greek term. (i.e. Saka in Persian is Scythian in Greek).

Further studies have identified the overall current region named Baluchistan as the old Magog/Gitya, and it is actually divided today between three countries: Iran, Pakistan and Afghanistan. In western Pakistan, there’s also a province names Baluchistan, next to the Iranian Baluchistan. They have also concluded that Gog, is not from Magog, but that Gog and Magog are 2 different nations, and that there will be a war between the 2 of them.
***It looks like Gog is from Turkey and Magog is from Iran/Pakistan/Afganistan. There may be a battle still between Sunni and Shiite Muslims or regions over whose leader will be their final Mahdi. The winner takes the territory over. There is a passage in Daniel 7 where it describes the “little horn” taking over 3 regions. Maybe if there is a battle between Gog and Magog, it is related to the battle waged by the little horn. If so, then the players (Gog and Magog) will be better identified.
Gog is the president of one of the nations, whom Rabbenu Saadia Gaon compared to the Moslem Caliph in his days, because Gog will also rule many peoples. Gogana used to be the name of a port city on the Persian Gulf, which is today called Bandar-e Kangan, in Iran. Therefore Gog, in this view, represents Iran, and Magog represents the Baluchistan regions of Iran, Pakistan and Afghanistan. Magog, in this viewpoint, covers the territory that al Qaeda occupies.



Short term consequence of the defeat
Since Gog and its allies will experience a major defeat, this weakens them to conflicts with neighboring nations. Possibly, a Shitte nation like Iran (Persia), an ally of Gog, would be weakened to such a point that it could be overcome by neighboring Sunni countries. This could allow the Mahdi, if a Sunni, to consolidate his kingdom, or empire.
A united Arab world under a Mahdi
It is possible, from either Location #1 or #2, that the next Islamic leader (Gog) will be from Iran or Iraq/Turkey, and that he will become the chief prince. He would rule Turkey and the northern part of Syria along with Iran/Iraq, which is a good part of the Old Hashemite Kingdom [currently only represented by Jordan, and Saudi Arabia, which pays due to Jordan].
Note that the areas that make up the “head” on the map below of the ancient Grecian “empire map.” This is the general area predicted by Daniel the prophet to produce the last ruler that opposes Israel.
An effort to make a reasonable evaluation of this
This is the Muslim world now, which includes the areas under discussion
Only the dark green area is Shiite. The rest of the Muslim area (light green) is Sunni. It would be reasonable to assume that if Islam had a ruler who would unite the Arab world, it would NOT be a Shiite, but a Sunni. The Shiites have a more elaborate anticipation of the Mahdi, but sheer numbers indicate that the Sunni world will not follow a Shitte leader. As much as the Shiites think otherwise, it appears more reasonable that Iran and its Shiite satellite groups would eventually integrate into the Sunnis to be under one leader. However, I could be wrong. Sometimes a smaller, but more determined group can win against a larger, more passive enemy.
Where would the Mahdi live?
The book of Daniel indicates the ruler and empire that would be most active against Israel will be from the area of the ancient Grecian empire. This narrows the location of the Mahdi. Also, it would be a Sunni area. From other Biblical prophesies (Rev 16), I would also expect the leader to be from a region that is close to the Euphrates River. This narrows it down again.
Conclusion
This area of origin for the Mahdi (area of united Gog/Magog) would be Saudi Arabia, Jordan, Syria, Iraq, Turkey, Iran, Kuwait, and the other surrounding areas. Notice the primary Shiite area, Iran, is not near the Euphrates. It is fed by the Tigris River instead. So, it is my opinion that the Mahdi, to the disappointment of Ahmadinejad, will not be from Iran. But time will tell if I am right or wrong.
Islams’ view of Gog – just to make this more interesting.
“Muhammad has foretold the return of Jesus (Isa in Arabic), who will materialize when a false claimant to divinity (the Dajjal-Christians) will attempt to misguide humanity into worshiping him.
Jesus will descend from the heavens in Damascus, pray behind Imam Mahdi, pursue and kill the Dajjal (Christians), destroy the savage and unbelieving armies of Gog and Magog and bring peace and brotherhood to the world. Christians will recognize the truth, and accept him only as a Messenger of God; the religion of God (Islam) will justly rule the world.”
Curious Note:
It is so odd to me, that the Christians think of the Muslims as unbelievers, and the Muslims think of Christians as the unbelievers. It amazes me that the Muslims think that Jesus would destroy the Christians, his own followers. I will be glad when Jesus gets here to straighten all this out. It is strange to me as a Christian, that the Muslims think they will be fighting the “unbelieving armies of Gog and Magog,” when, from all biblical definitions, THEY ARE Gog and Magog.


Wednesday, March 7, 2012

Yahudi Menurut Al-Qur’an


jewish-rabbi-KanevskyQuran_cover
 Paling tidak terdapat empat ungkapan di dalam al-Qur'an untuk menyebutkan umat Yahudi, yaitu  Bani Israil, Yahud, Hud dan Hadu.
Al-Qur’an menyebutkan kata Yahudi sebanyak delapan kali, satu di antaranya dalam bentuk kata sifat. Kata Yahudi termuat dalam Surat al-Baqarah 02:113 dan 120, Surat al-Ma’idah 05:18, 51, 64 dan 82 dan Surat al-Taubah 09:30. Semua ayat yang menyebutkan kata Yahudi, termasuk kategori ayat madaniyah, yakni ayat yang diwahyukan sesudah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hijrah ke kota Yastrib (Madinah).
 “Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nashrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan," padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.” [QS al-Baqarah 2:113]
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” [QS al-Baqarah 2:120]
“Orang-orang Yahudi dan Nashrani mengatakan: "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).” [QS al-Ma’idah 5:18]
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.” [QS al-Ma’idah 5:51]
“Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.”[QS al-Ma’idah 5:64]
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nashrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nashrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”[QS al-Ma’idah 5:82]
“Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nashrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?”[QS at-Taubah 9:30]
Dengan sebutan Bani Isra’il, ditampilkan  40 kali, baik dalam ayat yang termasuk kategori makkiyah maupun madaniyah. Kata Isra’il disebut hanya sekali dalam Surat Maryam 19:58, yang termasuk kategori ayat Madaniyah. (Baqi, 1981 : 33, 137 dan 775).
 “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” [QS Maryam 19:58]
Sebutan  Hud (an)  disebut di dalam surat al-Baqarah 02:111, 135 dan 140  yang termasuk katagori ayat madaniyah. Di sini perlu dibedakan antara kata Hud (an) dalam ayat tersebut di atas yang menunjuk kepada umat atau bangsa, dengan kata yang sama dalam surat al-A'raf  07:65, surat Hud 11:50 dan 58 yang menunjuk nama seorang nabi, yaitu Nabi Hud. Yang kedua ini semuanya termasuk katagori ayat makkiyah.
 “Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani". Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar".” [QS al-Baqarah 02:111]
“Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nashrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik". [QS al-Baqarah 02:135]
“ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nashrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nashrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” [QS al-Baqarah 02:140]
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?" [QS a’-‘Araf 7:65]
“Dan kepada kaum Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.” [QS Hud 50]
“Dan tatkala datang adzab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari `adzab yang berat.”[QS Hud 58]
 Sebutan Hadu dimuat sebanyak 10 kali,  dua di antaranya termasuk kategori makkiyah.
 Kata Isra’il  dalam bahasa  Hebrew (Ibrani) mempunyai  arti  Prince of God    (Penrice, 1971 : 05) dan dipakai untuk sebutan atau  laqab bagi Nabi Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim   (Ismail Ibrahim, 1968 : 38, bandingkan dengan Kejadian 32:28 dan 35:10).  Menurut  Surat al-Ma’idah 05:12, Bani Isra’il terdiri dari 12 naqib, yaitu duabelas kelompok, yang terdiri dari duabelas  anak laki-laki Nabi  Ya’qub dan isteri-isterinya. Nama anak-anak  tersebut, sebagaimana disebutkan dalam Perjanjian Lama (Taurat) Kitab Kejadian 35 : 22-26  adalah Rubin, Simeon, Levi, Yehuda, Issachar, Zebulon (dari isteri Ya’qub bernama Lea), Yusuf, Benyamin (dari isteri Ya’qub bernama Rachel), Dan, Naftali (dari isteri Ya’qub bernama Bilha), Gad dan Asier (dari isteri Ya’qub bernama Zilpa).
 “Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus".” [QS al-Ma’idah 5:12]
“Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah daripadanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (Kami berfirman); "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezekikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.” [QS al-‘Araf 7:160]
“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” [QS al-Baqarah 2:60]
 Pada masa kepemimpinan Nabi Musa Alaihissalam, umat Yahudi merupakan suku (qabilah) yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah 02:60, dan Surat al-A’raf 07:160. Dari keterangan tentang duabelas  mata air, nampak-nya masing-masing putera Nabi Ya'qub membangun kelompok  tersendiri. Di dalam Perjanjian Lama,  KitabKejadian 49:28 dan Keluaran 24:04 dijelaskan bahwa Nabi Musa Alaihissalam membangun duabelas  tugu di satu mezbah  yang berlokasi di kaki bukit Torsina, sebagai lambang eksistensi duabelas  naqib tersebut di depan.
 Nabi Musa Alaihissalam menerima wahyu al-Kitab sebagai petunjuk  bagi  Bani Isra’il (al-Isra’ 17:02). Di antara isinya adalah larangan menyembah tuhan selain Allah, perintah berbuat baik kepada orang tua, kerabat, anak yatim dan kaum miskin, berbicara yang baik, mendirikan salat dan menunaikan zakat   (al-Baqarah  02:82, bedakan dengan Ulangan 05:06-21 ).
 Selain al-Kitab, mereka dianugerahi pula suksesi para rasul dari kalangan umat Yahudi, kebaikan dan keutamaan di muka bumi (al- Jasiyah 45:16 ). Namun dalam pelaksanaannya, aturan-aturan yang baik itu kurang mendapat perhatian disebabkan hati mereka yang kaku. Al-Qur’an memberikan gambaran tentang sifat dan sikap umat Yahudi yang negatif, yaitu : mempermainkan agama (al-Ma’idah 05:57), menjadikan al-Kitab hanya sebagai lambang dan kebanggaan saja (al-Jumu’ah 62:05 ), lebih berani mendustakan bahkan membunuh  nabi (al-Ma’idah 05:70 ), merobah al-Kitab (al-Baqarah  02:75, al-Nisa’ 04:46), memalsukan agama (al-Baqa-rah 02:79), memanipulasikan informasi (al-Baqarah  02:174), suka khianat (-Baqoroh 02:64), suka melanggar aturan (al-Baqarah  02:65),  konfrontatif (al-Baqarah  02:44 ), cenderung kepada kemusyrikan  (al-Baqarah  02:92 ), sangat  takut mati (al-Jumu’ah 62:07), bergelimang riba (al-Nisa’ 04:53 ), paling memusuhi umat beriman (al-Ma’idah 05:82  ) dan  lain sebagainya.
 Di saat mereka berada dalam kondisi lemah, sikap tersebut diselubungi dengan rapi dan mereka membentuk al-jam’iyat al-sirriyah, sebagaimana diistilah kan oleh Le Beaume dalam Le Koran Analyze, terj., 1955:354, yaitu gerakan bawah tanah, organisasi kamuflase, untuk menyebarkan kerusakan dan permusuh an (al-Mujadilah 58:08).
 Menurut informasi al-Qur’an. genealogi Yahudi berpangkal dari Nabi Ibrahim Alaihissalam melalui puteranya Nabi Ishaq Alaihissalam, yang kemudian menurunkan Nabi Ya’qub Alaihissalam dengan duabelas puteranya.  Kekeluargaan Yahudi  bersifat patrialchal  (Brandon, 1970 : 378 ), dan keyakinan  tentang ketuhanan  yang dianut, sesuai dengan yang termaktub di dalam al-Kitab adalah keyakinan  monotheism.
 Gerakan Yahudi berkembang dalam dua bentuk sesuai dengan kondisi nyata yang mereka hadapi, yaitu pada saat  mereka mempunyai kekuatan yang cukup untuk tampil terbuka, gerakannya dilakukan secara terbuka, tetapi di saat mereka tertindas oleh kekuatan lain, gerakan itu tidak mandeg, tetapi berubah menjadi gerakan bawah tanah,  yang dengan penuh kepercayaan  mengembangkan kekuatan untuk bangkit sebagai  gerakan terbuka.
 Pada masa Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, di Yasrib (Madinah) gerakan bawah tanah ini  diperankan oleh Banu Quraizah, Banu al-Nadir dan Banu Qainuqa’, yang kemudian karena gerakan itu tercium oleh umat  Islam, kelompok itu dievakuasi (ijla') dari  kota Madinah. Banyak yang beranggapan bahwa evakuasi itu karena agama atau etnis, tetapi kenyataan sejarah menyatakan bahwa evakulasi dari Madinah karena kejahatan konspirasi untuk menjatuhkan Rasulullah, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, yang bisa saja sanksi seperti itu dijatuhkan kepada kelompok lain.
 Namun,  nampaknya di dalam al-Qur’an informasi tentang sikap dan prilaku umat Yahudi benar-benar disampaikan secara objektif . Di dalam al-Qur'an dinyatakan dengan tegas bahwa umat Yahudi tidak seluruhnya bersikap dan berprilaku negatif.  Misalnya pernyataan yang tersebut di dalam Surat al-A’rof 07:162  menggambarkan bahwa  yang  mengubah perintah al-Kitab itu bukan seluruh umat Yahudi tetapi dinyatakan dengan ungkapan,  orang-orang  yang zalim di antara mereka... . Demikian pula pernyataan yang tersebut di dalam  Surat al-Baqarah  02:75 menggambarkan bahwa yang melakukan perubahan terhadap wahyu yang diturunkan itu bukan seluruh umat Yahudi, tetapi dinyatakan dengan  ungkapan, ada sebagian dari mereka yang mendengar kalamullah, kemudian mengubahnya ...
 Dalam surat al-Nisa' 04:46 dan 160 ; surat   al-Maidah 05:41 yang menginformasikan sifat  dan perilaku negatif umat Yahudi, terkesan tidak digeneralisasikan, sebab dalam susunan ayat-ayat tersebut selalu dipakai huruf min, yang lazim disebut sebagai min tab'idiyah, yakni huruf min yang menunjuk pada sebagian yang disebut, bukan seluruhnya.
 Dengan demikian al-Qur’an tidak menggeneralisasikan sikap dan prilaku negatif tersebut terhadap keseluruhan bangsa Yahudi dan tidak secara a priori menyatakan bahwa Yahudi itu negatif.   Demikian pula praktik yang dilakukan oleh umat Islam di zaman permulaan, di Yasrib (Madinah) pada saat dibuatnya Misaq Madinah, ummat Yahudi ditempatkan sejajar dengan umat Islam disertai jaminan  hak dan beban  kewajiban yang sama, dalam masalah yang berkaitan dengan kepentingan umum di kota Madinah ( Pasal 27 Misaq Madinah).
 Evakuasi (ijla') umat Yahudi dari Madinah, sebagaimana telah disinggung di depan,  bukan karena agamanya,juga bukan karena etnisnya,  atau karena sentimen  Arab-Israel, tetapi semata-mata karena pelanggaran melakukan konspirasi  bersama kekuatan Quraisy dari Makkah yang bertujuan menjatuhkan kepemimpin an Rasulullah, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Jadi masalahnya  bukan menyangkut sentimen antar agama, sentimen antar etnik atau sentimen politik, tetapi masalahnya adalah pelanggaran dan kejahatan yang dilakukan satu pihak, yang mungkin bisa terjadi juga pada pihak lain, termasuk kelompok umat Islam sendiri.
 Dari paparan al-Qur'an dan praktik Rasulullah, Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di atas, dapat digambarkan bahwa suatu kondisi dan pengaruh moralitas tertentu dapat membuat sekelompok orang dari suatu bangsa berbuat negatif.  Dan yang jelas keadaan seperti tersebut  bukan hanya  merupakan sesuatu  yang spesifik  umat  Yahudi,  bukan sesuatu yang merupakan monopoli umat Yahudi, tetapi dapat pula dilakukan oleh umat  yang lain.

Popular Posts