PASUKAN PANJI HITAM THE BLACK BANNER

Thursday, November 5, 2015

Serial Pembahasan Seputar Khawarij Modern bag 1 (Pengantar)

Pembaca yang dimuliakan Allah, berbagai tindak kejahatan yang dipertontonkan oleh Organisasi Khawarij Daulah Baghdadiyah telah begitu nyata dan bisa dilihat dengan jelas oleh kaum Muslimin di timur maupun di barat. Persoalannya, kedok sebagai penegak Daulah Islamiyah benar-benar telah membius kaum Muslimin khususnya kaum awam yang begitu mudah tersesatkan dengan kemasan publikasi Organisasi Khawarij ini di dunia maya, maupun penipuan mereka yang mampu menjebak para pejuang yang lugu karena dibungkus dalam cita-cita penegakan syariat Islam.
Tercatat begitu banyak pemuda yang mengorbankan dirinya meninggalkan keluarga mereka dan pergi melanglang buana demi melayani ide-ide yang dilontarkan oleh kelompok Khawarij ini, tidak sedikit pula dari mereka yang kemudian ikut terwarnai oleh pemikiran mereka.

Fenomena ini pun segera ditanggapi oleh para ulama dan ahlul ilmi termasuk di antaranya para syaikh yang telah lama berkecimpung di medan jihad. Seperti syaikh Usamah bin Ladin rhm, syaikh Aiman azh Zhawahiri rhm, syaikh Abu Qatadah al Filisthini dan sebagainya.

Uraian mereka tentang kelompok khawarij, tulisan-tulisan dan ucapan mereka tersebar dalam berbagai terbitan dan ulasan, yang mendorong syaikh Abu Maryam al Azdi untuk mengumpulkan berbagai kesaksian tentang mereka termasuk yang dikumpulkan dari para komandan jihad, khususnya di negeri-negeri jihad seperti Suriah, Irak, Afghanistan dan lain sebagainya.
Muqawamah Media memutuskan untuk menerbitkan kajian beliau secara berseri, sehingga mudah dipahami oleh kaum Muslimin. Selamat menyimak

KHAWARIJ MODERN Perkembangan, Ciri-ciri, Masalah-Masalah, Keadaan dan Akhir Nasib Mereka, Hukum Memerangi dan Menjaga Diri dari Kejahatan Mereka.
Ditulis oleh:
Abu Maryam al-Azdi
(Ahmad bin Abdullah bin Shalih az-Zahrani)
PENCERAHAN.(1).
“Sudah diketahui di dalam sifat dasar berkumpulnya manusia; bahwa setiap kelompok yang banyak jumlahnya pasti ada orang yang murni berasal dari kelompok tersebut dan ada pula orang yang asing, yang lurus atau pertengahan, ada yang keras, ada yang berlebih-lebihan dan ada pula yang toleran dan menurut penelitian bahwa suara yang berlebih-lebihan adalah yang paling kuat sambutannya dan paling besar penerimaannya. Karena sikap pertengahan kedudukannya dekat dengan keadilan, dan orang yang menjaga hal itu sangat sedikit di setiap masa dan tempat, adapun ghuluw (ekstrim) maka itu menjadi kecenderungan kebanyakan orang dan keinginan mayoritas dan pada hal semacam inilah letak derajat kelompok-kelompok sempalan dan menyimpang.
Maka aku berusaha mencari peninggalan-peninggalan sejarah kebudayaan manusia, dan merenungi setiap motivasi yang mendasari munculnya tuntutan dan permintaan manusia kepada manusia yang lain, maka aku tidak di dapati kecuali bahwa semuanya didasari oleh sikap ekstrim itu sendiri, yaitu dengan merendahkan lainnya dan menjatuhkan selainnya sesuai datangnya kesempatan dan adanya kemampuan baik dengan pedang maupun dengan lisan.”
Bismillahi, Walhamdulillaah, Ash-Shalaatu was Salaamu ala Rasulillaah
wa ba’du:
Telah banyak kelompok Khawarij pada masa sekarang ini, dan telah banyak pula pembahasan tentang mereka di majelis-majelis Islamiyah dan juga melalui media.
Saya pernah hidup bersama sebagian mereka di Khurosan, saya juga telah mendengar dari mereka dan tentang mereka, dan saya mengakui adanya keberadaan mereka diantara sebagian penuntut ilmu dan para komandan akan keberadaan mereka di Irak dan Syam.(2).

Orang pertama dari kalangan mereka muncul pada tahun 1965 dari rahim Gerakan Kebangkitan Islam (Ash-Shahwah Al Islamiyah) yakni sebuah gerakan kebangkitan untuk kembali kepada agama (secara spontan), dan pemikiran serta sikap semacam ini terus berlanjut hingga kepada orang-orang setelah mereka–dan mayoritas dari mereka—berada di bawah kendali badan intelijen (ditinjau dari sisi aktivitasnya) di satu sisi atau di sisi lain berasal dari kelompok jihad (yang terlalu longgar, teledor dan lalai) (3).
Saya berpendapat untuk mengumpulkan segala informasi dan ulasan tentang mereka, berdasarkan apa yang telah ditulis oleh para pemimpin jihad, para syaikh dan pemikirnya, itu karena adanya informasi yang tepat tentang mereka–meskipun sedikit–adalah lebih wajib dan lebih baik, lebih murni dan jernih, lebih kuat dan lebih mengena!
Dan masyayikh kita—berkat keutamaan dari Allah–jika berbicara dan menulis maka pasti dengan ilmu waqi’ (kondisi lapangan) dan pengalaman. Oleh karena itu, buku-buku mereka memiliki kedudukan yang begitu mulia dan dibutuhkan oleh umat manusia, seperti yang telah saya sebutkan.

Syaikh Athiyatullah berkata dalam risalahnya (Jawabu Sualin fi Jihadid Daf’i), “Kami telah mengalaminya dan orang-orang telah mengalaminya di berbagai negara”.
Syaikh al Maqdisi berkata (Muqabalati Nidaail Islami), “Sungguh aku telah malang melintang dan berhadap-hadapan dengan sebagian ekstrimis ahli takfir.”
Syaikh Abu Qatadah dalam perkataannya (Baina Manhajaini, hlm: 40), “Kami telah melihat sebagian orang-orang itu, kami mendapati mereka termasuk makhluk yang paling rendah, orang yang paling rusak niatnya, dan kebanyakan mereka mayoritasnya menggunakan taqiyyah”.

Demikianlah, jika persoalan tentang mereka telah ditetapkan, maka harus ada peringatan dengan beberapa poin penting, yang harus diingat dan selalu dijadikan pegangan saat membaca risalah ini.(4).
Pertama: Bahwa “Kemaslahatan tauhid dan jihad itu akan tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya”
Kedua: Bahwa menulis seputar permasalahan ini adalah menjadi dan terus akan menjadi hal yang sangat “penting dan harus.” Artinya, “Bagaimana mungkin kita akan berusaha diam dari kebodohan seperti ini dan mengakuinya? Bukankah sikap semacam itu hanya menyebabkan orang-orang yang menyelisihi tauhid dan jihad dapat meraih tujuannya? Sehingga mereka dapat mengarahkan panah-panah mereka kepada tauhid dan jihad dari celah-celahnya… Maka yang wajib sejak dahulu dan akan terus seperti itu adalah menghilangkan bencana dusta ini dan membasminya.
Ketiga: Bahwa orang yang paling mengenal kelompok ini, adalah orang yang mengetahui apa yang dapat memberi mereka manfaat dan meluruskannya, apa yang membahayakan dan apa yang membuat mereka menyimpang serta memahami berbagai penghalang-penghalang duniawi berupa keluarga dan anak-anak mereka yang mereka pikul beban beratnya dan menjadikan mereka tak dapat tidur karena kesedihannya.
Keempat: Kami sekali-kali tidak rela bila seteru kami mendebat kami saat kami berhujjah dengan perkataan dan perbuatan mereka, atau memosisikan kami sebagai pihak yang bertanggung jawab akan kemunduran umat yang disebabkan karena orang-orang Khawarij ini, dan kami tidak akan membiarkan mereka membuat kami menerima tuduhan-tuduhan mereka, mereka selalu berusaha menyibukkan diri dalam hal itu sebagaimana kesibukan setiap penghasut terhadap agama ini.
Hal itu diketahui oleh setiap orang yang telah berkecimpung dalam melawan kaum yang menyimpang dari syariat dan mereka yang senantiasa berusaha membantah syubhat orang-orang bodoh.
Oleh sebab itu, kami tidak merasa keberatan dengan keadaan yang kami alami ketika kami tengah memberantas kebatilan mereka dan kesalahan-kesalahan mereka, serta mengumumkan sikap berlepas diri kami dari kelompok Khawarij kepada seluruh manusia, inilah yang kami pelajari dari Nabi kita saw ketika mengumumkan sikap berlepas diri beliau dari kesalahan kelompok Khawarij masa lalu yang lebih baik dari mereka (Khowarij hari ini) “.

Kelima: “Kami mengetahui bahwa dalam perjuangan kami untuk melawan Khawarij ini dan membersihkan prinsip-prinsip Islam dari kesesatan mereka, di sana ada pihak-pihak yang mengawasi majelis pertemuan kami dari jauh atau dari dekat, lalu dengan sungguh-sungguh mereka berusaha dengan cara kotor dan tipu daya serta mencampur aduk lembaran, merubah perkataan dari tempatnya dan mengarahkan pembahasan kami kepada orang yang mereka inginkan, bukan orang yang kami inginkan.
Orang-orang ini melakukan penipuan dan kedustaan. Dan yang membuat kedustaan dan kebohongan itu banyak sekali, kelompok mereka bermacam ragam, baik dari kalangan pembela thoghut atau dari media mereka atau dari para jurnalis mereka, syaikh-syaikh mereka, atau lawan seteru kami yang selalu mengawasi kami dari orang-orang ekstrim atau yang beraliran Jahmiyah atau Murji’ah. Maka kepada orang-orang seperti mereka itu kami katakan:
“Ketahuilah wahai musuh bagi kaum kalian sendiri, bahwa kata-kata seperti ini sesungguhnya kami arahkan karena adanya situasi dharurat bagi orang-orang yang telah kami sebutkan, cirikan dan kami tentukan dari kalangan para pengikut kebathilan.
Pembahasan kami tentang Khawarij Modern bukan kami arahkan kepada saudara-saudara kami para mujahidin yang bertakwa dan jernih dari barat hingga timur, dan yang berada di atas pegunungan Afghanistan dan Chechnya atau di Somalia, di Irak ataupun di Palestina atau di atas bumi manapun yang berjihad di jalan Allah di dalamnya.

Perkataan kami ini tidak kami arahkan bagi seorang mujahid yang meninggikan bendera tauhid dimanapun berada, sekali-kali tidak dan hampir tidak mungkin. Karena mereka adalah tokoh-tokoh kami yang kami membanggakannya, mereka para pimpinan dan ulama kami, mereka adalah pilihan dan orang-orang terbaik kami karena mereka membela agama di zaman yang asing ini dengan pengorbanan darah dan ruh mereka
“Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim” (At-Taubah: 19).

“Jika bukan karena mereka hampir saja penduduknya berguncang…”
“Akan tetapi gunung-gunung dan tiang-tiangnya adalah mereka…”
“Kalau bukan karena mereka maka penduduknya hampir saja gelap gulita…”
“Akan tetapi di dalam mereka ada sinar bulan dan bintang…”
“Mereka adalah para sahabatku mari kita sambut…”
“Dan marilah kita sambut orang-orang baik dan nikmatilah….”

Dan terakhir saya ingatkan bahwa tidak ada yang saya sampaikan dalam risalah ini selain dari pengalaman dan apa yang aku dengar dan orang-orang yang mengakui akan keberadaan para Khawarij Modern dari para penuntut ilmu dan para pemimpin di Irak dan Syam, dan orang yang sudah banyak mengetahui tentang perkara mereka dan berpengalaman menghadapi mereka. Adapun berbagai peristiwa dan kesaksian dinukil dari orang-orang yang terpercaya dan adil, sedangkan selain itu yang hanya berupa pandangan kaum awam dan persangkaan, maka saya tidak mengambilnya.
Dan segala puji dan hidayah milik Allah.

Abu Maryam al Azdi.(5).
Syawal 1435 H.
(bersambung) Catatan kaki:
1. Jamaluddin al Qasimi rh, kitab al Jarh wat Ta’diil. Saya mengambil perkataan syaikh al maqdisi (Al Ghuluw Yamhaqul Barakat wa rifqu maa Kaana fii Sayi’in illa Zaanahu) jazakumullah khoiron katsiron.
2. Lihat risalah syaikh al Maqdisi (Bayan haalu ad Daulah al Islamiyah fil Iraq wasy Syam wal Mawaqif tujaahaa). Semoga Allah memperbaiki keadaan kita dan berlemah lembut dengan kita.
3. Khusus dengan intelejen, lihat buku ustadz Abu Mush’ab as Suuri: kitab Dakwah al Muqawamah (Pasal kelima, Kebangkitan yang nyeleneh dan kelompok takfiri), (Pasal keenam, ketika berbicara tentang pengalaman di al Jazair), kitab (Mukhtashor Syahadaaty Alal Jazaairi), Serial al Jihad huwal Hallu (kaset ke 21), serial Saraya al Muqawamah al Islamiyah al Alamiyah “video”, (kaset ke 13), serial Muqabalah ma’a Shohifati ar Ra’yul Kuwaitiyah (kaset ke10, menit ke 9).
Dan khusus untuk kelompok jihad, lihat: kitab ad Dakwah al Muqawamah (juz 1, akhir pasal ketujuh, al Akhtho wal Kholal fi Masaarit Tayaar al Jihaadi, al Khotoul Awwal), serial al Jihad huwal Hallu (kaset 24 dan 29), dan setelahnya, serial Saraaya al Muqawamah al Islamiyah al Alamiyah “Video” (kaset ke 14) dan setelahnya, serial Muqabalah ma’a Shohifa Ar Ra’yu al Kuwaitiyah (kaset ke 10 dan 14), serial kitab Harbul Mustadh’afiin (kaset ke 3 dan 30) dan serial Waqi’ul Muslimin, Al Azmati wal Mahkroj (kaset ke 8 dan 13).
dan saya ingatkan di sini kepada setiap orang yang ingin menelaah maroji’ ini, di dalamnya ada apa yang tidak ada di yang lainnya dari sisi detail dan contoh2nya.
4. Diambil dari perkataan syaikh al maqdese (Indama Naktubu).
5. Peringatan: Abdul Faqir, penulis buku ini, bukanlah termasuk jajaran pimpinan di Khurosan, dan juga bukan dari anggota ilmu syar’iy, adapun menjadi syaikh dan fatwa maka – demi Allah – sangat jauh sekali, ini hanyalah “Pecinta.” Pecinta jihad dan pelakunya dan pecinta ilmu dan pemiliknya.
Dari abu Musa dia berkata: dikatakan kepada nabi saw: ada seseorang yang mencintai suatu kaum, apakah dia bisa berkumpul dengan mereka? Beliau menjawab: “Seseorang itu bersama orang yang dia cintai.”
Aku memohon kepada Allah agar mengasihi kami, memperbaiki keadaan kita dan agar tidak menghinakan kita pada hari kiamat. Amiin.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts