PASUKAN PANJI HITAM THE BLACK BANNER

Thursday, August 7, 2014

Antara Hijab dan ISIS



Jahil saya masih berlanjut. Kakak kelas yang mengisi kajian dan mengatakan menutup aurat wajib, harus pasrah menerima bantahan-bantahan saya kala itu. Mulai dari memakai hijab itu budaya Arab, tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia hingga jelas-jelas Quran Surat Al Ahzab ayat 59 pun sempat saya bantah. Di situ disebutkan “....Yang demikian itu agar mereka mudah dikenali sehingga tidak diganggu.” Tanpa hijab saya merasa tidak pernah diganggu laki-laki dan itu artinya saya tidak perlu memakai jilbab dan hijab. Astaghfirullah.

Syukurlah Allah tidak membuat hati saya bebal terlalu lama. Di setiap sujud salat, saya meminta ditunjukkan Islam yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh Muhammad SAW. Islam yang mendekatkan pada keridho-anNya dan bukan murkaNya. Ketika hati sudah mulai sadar dan mantap untuk menutup aurat, cobaan muncul. Para guru menunjukkan ketidaksukaannya pada ekskul ini. Bukan hanya tidak suka, tapi mereka pun menyebut ajaran kakak kelas di SKI terutama yang akhwat adalah sesat. Tak tanggung-tanggung, saya yang terkenal dekat dengan para akhwat ini dipanggil oleh guru agama. Katanya sih tujuannya untuk mengingatkan saya agar tak ikut-ikutan aliran sesat yang dibawa oleh aktivis SKI.

Percayalah, tak mudah meyakinkan saya tanpa ada argumentasi tangguh. Akhwat-akhwat yang sempat saya bantah sebelumnya, kali ini saya bela. Saya katakan pada guru agama tersebut bahwa selama ini mereka mengisi kajian itu dengan landasan Quran. Sebelum acara kajian dimulai acara dibuka dengan membaca Qur’an, materi pun diisi dengan landasan Quran dan diperkuat dengan hadis-hadis sahih. Acara pun ditutup dengan doa penutup majelis yang isinya meminta perlindungan Allah agar majelis tersebut selalu dilindungiNya. Jadi sejauh ini saya memang belum atau bahkan tidak melihat indikasi kesesatan yang dimaksud oleh guru agama tersebut.

Singkat cerita, saya pun berhijab di pertengahan SMA alias kelas dua. Penolakan dan penentangan tidak hanya dari pihak sekolah, tapi kecamatan dan kepolisian juga. Membuat KTP dan menyerahkan foto berhijab, saya dimarahi, dimaki-maki dan dipermalukan di depan orang banyak oleh petugas kecamatan. Mau yang lebih parah lagi? Saya diusir oleh polisi yang bertugas mengambil foto ketika pengurusan SIM. Tidak terima oleh perlakuannya, saya menulis surat pembaca menulis di surat kabar terbesar di Jatim saat itu. Bukannya dimediasi dengan baik, respon yang saya terima adalah surat kaleng yang berisi ancaman, kata-kata menghina muslimah berhijab dan potongan gambar kelamin laki-laki dengan jumlah sangat banyak.

Siapa nyana, sekian tahun kemudian hijab menjadi fenomena yang sangat biasa. Ketika saya ngobrol dengan remaja sekarang ini dan menceritakan kisah di atas, mereka menatap takjub seolah tak percaya. Ya...mereka berhijab dengan sangat mudah, murah, dan aman. Mereka tak perlu lagi merasakan sedihnya dihina, takutnya diintimidasi, perihnya dizolimi, ‘hanya’ demi menjalankan salah satu perintah agama yang katanya dilindungi undang-undang.

Dan kini, umat Islam kembali mengalami rasa sakit yang sama pula. Satu institusi yang idenya telah digulirkan bahkan sejak keruntuhannya tahun 1924 di Turki, mengalami fitnahan saat ini. Khilafah Islam atau Islamic State adalah satu istilah yang mulai akrab di telinga orang Indonesia saat ini. Umat Islam disadarkan untuk merindu institusi ini ada di tengah mereka untuk menjalankan syariat Islam secara total. Pelan tapi pasti, makin banyak umat yang tercerahkan. Ide khilafah bergulir di tengah-tengah umat sejalan dengan makin baiknya kesadaran umat untuk taat pada syariat.

Di tengah bergulirnya bola salju itu, di belahan bumi sana terdengar ada deklarasi Khilafah Islam ini. Meskipun keberadaannya sudah sejak sekian tahun yang lalu, anehnya mulai rame dipermasalahkan di negeri ini akhir-akhir ini saja. Penyebutan yang salah, propaganda media sekuler, adu domba, saling hujat dan fitnah menyertai keberadaan institusi ini. Media sekuler di Indonesia berlomba memberitakan sisi negatifnya, mengingatkan bahayanya, hingga mengancam siapa pun yang mendukungnya.

ISIS adalah satu nama baru yang laris manis disebut. Meskipun institusi ini sudah dibubarkan dan berganti dengan IS (Islamic State) saja, tapi media kita tetap membeo media sekuler barat dengan sebutan ISIS. Entah kurang pengetahuan, malas mencari tahu, atau sekadar meniru majikan. Hal-hal buruk dialamatkan semua ke institusi berusia muda ini.

Semangat jihad yang dipunyai oleh sebagian pemuda negeri ini dan disalurkan dengan bergabung dan berangkat ke luar negeri disikapi pemerintah dengan sangat negatif. Ya...sepertinya pemerintah negeri ini jauh lebih suka dan bangga bila pemudanya menghabiskan masa mudanya di lantai dansa diskotik yang penuh dengan asap rokok, minuman keras, transaksi perzinaan, dan aktivitas maksiat lainnya. Bukan itu saja, pemerintah pun memberi ancaman terhadap siapa pun yang memberikan dukungan terhadap ISIS, maka akan dicabut kewarganegaraannya. Negeri ini pun mundur kembali seperti zaman hijab diperjuangkan.

Satu ketika nanti, entah butuh berapa tahun dari hari ini, saya akan duduk bersama dengan anak-anak saya, cucu-cucu saya, anak dan cucu tetangga, remaja dan pemuda-pemudi yang haus akan kisah negeri ini di masa lalu. Negeri yang mayoritas muslim tapi hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya dikebiri sejak mula proklamasi kemerdekaan dibacakan.

Saat itu adalah saat ketika suasana sudah sebegitu indahnya dalam naungan syariat Islam sehingga anak-anak muda itu akan terheran-heran akan satu kisah yang sedang terjadi hari ini. Hari dimana mereka mengaku muslim tapi memilih dan memilah syariat yang dianggapnya sesuai dengan pesanan sang majikan. Salat, zakat dan puasa diterima sedangkan jihad, jizyah, dan kekhilafahan dilabeli sebagaimana orang kafir memberi label.

Ya...akan tiba saat itu. Pasti insya Allah. Dimana anak-anak dan pemuda tak pernah membayangkan bahwa ada peristiwa yang terjadi sebagaimana hari ini. Sama seperti tak percayanya remaja saat ini saat kukisahkan betapa kami seperti buronan hanya sekadar menutup aurat yang itu adalah milik kami sendiri. Mereka membuat rencana dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Wallahu ‘alam.


Sahabat Muslimah,
Awal tahun 90an merupakan zaman kelam bagi muslimah yang ingin menutup aurat dengan hijab. Mereka yang bersekolah di sekolah umum (tidak berlabel Islam) baik swasta maupun negeri mengalami diskriminasi. Baju seragam sekolah yang ditetapkan pemerintah dianggap sangat sakral sehingga siapa pun yang melanggar akan mendapat hukuman. Hem putih sebatas siku dengan rok sebatas lutut. Berbeda dari itu terkenai sanksi. Sanksi bisa bermacam-macam. Mulai dari di-skors, disuruh keluar dari kelas, tidak boleh ikut pelajaran hingga dikeluarkan dari sekolah.
Saya masih ingat saat itu, betapa masih jahilnya saya dengan aturan menutup aurat ini. Islam agama yang saya peluk dari lahir, tapi ternyata hukum menutup aurat saja saya tak tahu. Sungguh memalukan! Iseng ikut SKI (Sie Kerohanian Islam) di SMA, pengetahuan menutup aurat pun didapat. Apakah kemudian saya sadar dan langsung memakainya? Tidak.
Jahil saya masih berlanjut. Kakak kelas yang mengisi kajian dan mengatakan menutup aurat wajib, harus pasrah menerima bantahan-bantahan saya kala itu. Mulai dari memakai hijab itu budaya Arab, tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia hingga jelas-jelas Quran Surat Al Ahzab ayat 59 pun sempat saya bantah. Di situ disebutkan “....Yang demikian itu agar mereka mudah dikenali sehingga tidak diganggu.” Tanpa hijab saya merasa tidak pernah diganggu laki-laki dan itu artinya saya tidak perlu memakai jilbab dan hijab. Astaghfirullah.
Syukurlah Allah tidak membuat hati saya bebal terlalu lama. Di setiap sujud salat, saya meminta ditunjukkan Islam yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh Muhammad SAW. Islam yang mendekatkan pada keridho-anNya dan bukan murkaNya. Ketika hati sudah mulai sadar dan mantap untuk menutup aurat, cobaan muncul. Para guru menunjukkan ketidaksukaannya pada ekskul ini. Bukan hanya tidak suka, tapi mereka pun menyebut ajaran kakak kelas di SKI terutama yang akhwat adalah sesat. Tak tanggung-tanggung, saya yang terkenal dekat dengan para akhwat ini dipanggil oleh guru agama. Katanya sih tujuannya untuk mengingatkan saya agar tak ikut-ikutan aliran sesat yang dibawa oleh aktivis SKI.
Percayalah, tak mudah meyakinkan saya tanpa ada argumentasi tangguh. Akhwat-akhwat yang sempat saya bantah sebelumnya, kali ini saya bela. Saya katakan pada guru agama tersebut bahwa selama ini mereka mengisi kajian itu dengan landasan Quran. Sebelum acara kajian dimulai acara dibuka dengan membaca Qur’an, materi pun diisi dengan landasan Quran dan diperkuat dengan hadis-hadis sahih. Acara pun ditutup dengan doa penutup majelis yang isinya meminta perlindungan Allah agar majelis tersebut selalu dilindungiNya. Jadi sejauh ini saya memang belum atau bahkan tidak melihat indikasi kesesatan yang dimaksud oleh guru agama tersebut.
Singkat cerita, saya pun berhijab di pertengahan SMA alias kelas dua. Penolakan dan penentangan tidak hanya dari pihak sekolah, tapi kecamatan dan kepolisian juga. Membuat KTP dan menyerahkan foto berhijab, saya dimarahi, dimaki-maki dan dipermalukan di depan orang banyak oleh petugas kecamatan. Mau yang lebih parah lagi? Saya diusir oleh polisi yang bertugas mengambil foto ketika pengurusan SIM. Tidak terima oleh perlakuannya, saya menulis surat pembaca menulis di surat kabar terbesar di Jatim saat itu. Bukannya dimediasi dengan baik, respon yang saya terima adalah surat kaleng yang berisi ancaman, kata-kata menghina muslimah berhijab dan potongan gambar kelamin laki-laki dengan jumlah sangat banyak.
Siapa nyana, sekian tahun kemudian hijab menjadi fenomena yang sangat biasa. Ketika saya ngobrol dengan remaja sekarang ini dan menceritakan kisah di atas, mereka menatap takjub seolah tak percaya. Ya...mereka berhijab dengan sangat mudah, murah, dan aman. Mereka tak perlu lagi merasakan sedihnya dihina, takutnya diintimidasi, perihnya dizolimi, ‘hanya’ demi menjalankan salah satu perintah agama yang katanya dilindungi undang-undang.
Dan kini, umat Islam kembali mengalami rasa sakit yang sama pula. Satu institusi yang idenya telah digulirkan bahkan sejak keruntuhannya tahun 1924 di Turki, mengalami fitnahan saat ini. Khilafah Islam atau Islamic State adalah satu istilah yang mulai akrab di telinga orang Indonesia saat ini. Umat Islam disadarkan untuk merindu institusi ini ada di tengah mereka untuk menjalankan syariat Islam secara total. Pelan tapi pasti, makin banyak umat yang tercerahkan. Ide khilafah bergulir di tengah-tengah umat sejalan dengan makin baiknya kesadaran umat untuk taat pada syariat.
Di tengah bergulirnya bola salju itu, di belahan bumi sana terdengar ada deklarasi Khilafah Islam ini. Meskipun keberadaannya sudah sejak sekian tahun yang lalu, anehnya mulai rame dipermasalahkan di negeri ini akhir-akhir ini saja. Penyebutan yang salah, propaganda media sekuler, adu domba, saling hujat dan fitnah menyertai keberadaan institusi ini. Media sekuler di Indonesia berlomba memberitakan sisi negatifnya, mengingatkan bahayanya, hingga mengancam siapa pun yang mendukungnya.
ISIS adalah satu nama baru yang laris manis disebut. Meskipun institusi ini sudah dibubarkan dan berganti dengan IS (Islamic State) saja, tapi media kita tetap membeo media sekuler barat dengan sebutan ISIS. Entah kurang pengetahuan, malas mencari tahu, atau sekadar meniru majikan. Hal-hal buruk dialamatkan semua ke institusi berusia muda ini.
Semangat jihad yang dipunyai oleh sebagian pemuda negeri ini dan disalurkan dengan bergabung dan berangkat ke luar negeri disikapi pemerintah dengan sangat negatif. Ya...sepertinya pemerintah negeri ini jauh lebih suka dan bangga bila pemudanya menghabiskan masa mudanya di lantai dansa diskotik yang penuh dengan asap rokok, minuman keras, transaksi perzinaan, dan aktivitas maksiat lainnya. Bukan itu saja, pemerintah pun memberi ancaman terhadap siapa pun yang memberikan dukungan terhadap ISIS, maka akan dicabut kewarganegaraannya. Negeri ini pun mundur kembali seperti zaman hijab diperjuangkan.
Satu ketika nanti, entah butuh berapa tahun dari hari ini, saya akan duduk bersama dengan anak-anak saya, cucu-cucu saya, anak dan cucu tetangga, remaja dan pemuda-pemudi yang haus akan kisah negeri ini di masa lalu. Negeri yang mayoritas muslim tapi hak untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya dikebiri sejak mula proklamasi kemerdekaan dibacakan.
Saat itu adalah saat ketika suasana sudah sebegitu indahnya dalam naungan syariat Islam sehingga anak-anak muda itu akan terheran-heran akan satu kisah yang sedang terjadi hari ini. Hari dimana mereka mengaku muslim tapi memilih dan memilah syariat yang dianggapnya sesuai dengan pesanan sang majikan. Salat, zakat dan puasa diterima sedangkan jihad, jizyah, dan kekhilafahan dilabeli sebagaimana orang kafir memberi label.
Ya...akan tiba saat itu. Pasti insya Allah. Dimana anak-anak dan pemuda tak pernah membayangkan bahwa ada peristiwa yang terjadi sebagaimana hari ini. Sama seperti tak percayanya remaja saat ini saat kukisahkan betapa kami seperti buronan hanya sekadar menutup aurat yang itu adalah milik kami sendiri. Mereka membuat rencana dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Wallahu ‘alam. (riafariana/voa-islam.com)
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/08/06/32061/antara-hijab-dan-isis/#sthash.Mm8Up799.dpuf

No comments:

Post a Comment

Popular Posts