Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah
satu sudut Masjidil Haram ketika matahari meredakan panasnya, kita bisa
merasakan bayang-bayang sebuah bangunan yang menjangkau langit dari arah
Selatan.
Memang: di seberang gerbang Baginda
Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung, (baru diresmikan Agustus tahun
ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini lebih dari 600 meter
tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat muka jam di
puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London, meskipun
mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan
jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di
jidatnya yang diterangi dua juta lampu LED tertulis ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻛﺒﺮ , “Allahu
Akbar.”
Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat
perbelanjaan dan sebuah hotel dengan 800 kamar. Juga tempat tinggal.
Garasenya bisa menampung 1.000 mobil. Tapi para tamu dan penghuni juga
bisa datang dengan helikopter (ada lapangan untuk menampung dua
pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang mampu menyewa, atau
memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah satu kamar di
Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.
Dari ruang yang disejukkan AC itu
orang-orang dengan duwit berlimpah bisa memandang ke bawah — ya, jauh ke
bawah — mengamati ribuan muslimin yang bertawaf mengelilingi Kaabah
bagai semut yang berputar mengitari sekerat coklat.